πŸŽ‰ Dapatkan Transkrip Cepat dan Murah Hanya Rp10rb/rekaman πŸŽ‰

Debat Cawapres Putaran Dua - Part 3.mp3

Transkrip.id22 Menit

Transkrip berikut dihasilkan secara otomatis dari aplikasi Transkrip.id. Ubah audio/video menjadi teks secara otomatis hanya Rp10rb dengan durasi tak terbatas. Coba Sekarang!

00:00:0000:00:14

Masih di debat kedua, calon wakil Presiden Pemilu 2024, kami undang Pak Muhaimin dan Pak Mahfud untuk tetap ada di podium. Kita masih akan lanjutkan pendalaman visi dan misi.

00:00:1400:00:20

Silahkan kembali, Pak Muhaimin, Pak Gibran, dan Pak Mahfud untuk kembali menempatkan podium.

00:00:2000:00:30

Kita masih dalam sesi pendalaman visi-misi program kerja. Pertanyaan yang telah dibuat oleh para panelis.

00:00:3000:00:56

Dan untuk segmen ini pertanyaan dimulai untuk calon wakil Presiden nomor urut 1, Bapak Muhaimin Iskandar. Untuk itu kami persilahkan panelis untuk mengambil undian sub-tema di dalam FISBOL. Kami persilahkan Ibu Popi Ismalina untuk mengambil dan memperlihatkan kepada calon wakil Presiden dan Moderator.

00:00:5600:01:28

Silahkan diperlihatkan. Perkotaan. Baik, selanjutnya Ibu Retina Eka Putri untuk mengundi huruf A, B, atau C. Silahkan diperlihatkan huruf B. Perkotaan huruf B.

00:01:2800:02:32

Perkotaan huruf B. Kita akan buka amplom pertanyaan yang masih disegel. Dan kami kembali ingatkan kepada para calon wakil Presiden untuk mendengarkan dengan seksama, karena kami hanya akan membacakan pertanyaan satu kali. Pertanyaan untuk calon wakil Presiden nomor urut 1, Bapak Muhaimin Iskandar. Dengan sub-tema perkotaan. 56 persen penduduk Indonesia tinggal di perkotaan dan mencapai lebih dari 70 persen di tahun 2045. Permasalahan akan semakin kompleks, seperti transportasi publik, sampah, dan kawasan kumuh. Pertanyaannya, bagaimana strategi Paslon menyiapkan instrumen fiskal khusus untuk mengatasi masalah tersebut? Waktu Bapak untuk menjawab 2 menit. Kita mulai ketika Bapak mulai berbicara. Silahkan.

00:02:3200:08:13

Terima kasih. Perkotaan ini menjadi kebutuhan untuk terus menjadi bagian dari pembangunan nasional kita. Di antara kebutuhan pokok dari perkotaan ini adalah infrastruktur yang memadahi. Dan dalam kerangka agar tidak terjadi penumpukan penduduk di dalam satu perkotaan, maka pembangunan perkotaan harus dibikin merata di berbagai tempat. Kami memiliki satu tekad bahwa di dalam pemerintahan yang akan datang, minimal harus dibangun 40 kota baru yang selevel dengan Jakarta. Dengan kemampuan menampung jumlah penduduk, memberikan sarana dan prasarana yang memadahi, sekaligus kemampuan untuk terjaganya lingkungan yang memungkinkan untuk sehat. Termasuk kehidupan yang memberikan kenyamanan bagi seluruh penduduknya. Di mana perumahan tidak terlampau jauh dari pusat-pusat pekerjaan, di mana akses pendidikan bisa sampai pada yang dibutuhkan. Sementara fiskal yang dibutuhkan, kita harus pandai-pandai mengambil prioritas. Sekali lagi, kita bukan setuju atau tidak setuju IKN, yang paling penting adalah prioritas kepemerataan dan keadilan agar terbangun kota-kota, sehingga sarana air bersihnya terwujud. Balikpapan kasian, Banjarmasin kasian, Pontianak kasian. Karena apa? Kota-kota ini dalam waktu singkat bisa kita sulap menjadi lebih baik. Karena apa? Fiskal yang kita sediakan dirata adilkan di masing-masing perkotaan. Terakhir, bahwa perkotaan membutuhkan pendanaan, kita harus libatkan investasi swasta yang kita beri kepercayaan lebih baik lagi. Terima kasih. Lalu, kita pastikan transportasi umumi ada digitalisasinya. Sekarang kan sudah ada teman bus, ini harus kita replikasi di beberapa kota juga. Lalu, mungkin di level-level kota kecil, kita pakai skema buy and resell, sehingga masyarakat bisa mencoba menggunakan transportasi umum secara gratis. Lalu, untuk masalah kumuh, ini perlu kolaborasi BSPS dari Kementerian PUPR, RTLH dari Pemda, dan juga CSR dari swasta. Terima kasih. Pak Imin, saya agak kaget juga mau membangun 40 kota di level Jakarta. Ya, apa itu bisa dilaksanakan 5 tahun Bapak menjadi Presiden dan Wakil Presiden? Berapa kota dalam 5 tahun? Ini IKN saja sudah puluhan tahun baru dilaksanakan, itupun yang investasi baru dalam bentuk janji, belum ada yang melaksanakan. Nah gitu kan. Lalu sodara 40, luar biasa menurut saya, 40 kota se-level Jakarta, yang sudah metropolitan seperti itu. Lalu juga pembiayaannya menurut Pak Mohaimin, kalau nanti kita membentuk 40 kota itu, pembiayaannya itu APBN, APBD, atau perlukah lembaga khusus, seperti tadi ditanyakan oleh panelis melalui moderator. Ini perlu dijawab agar semuanya tidak spekulatif, selesai. Mohon maaf waktu Anda habis. Kami akan kembalikan ke Pak Mohaimin. Mohon tenang, belum selesai. Pak Mohaimin, waktu Anda untuk menanggapi atas tanggapan dari Pak Gibran dan Pak Mahfud. Waktu Anda, silakan. Ya, yang saya sampaikan, seperti Jakarta itu memiliki standar upaya sampai menuju Jakarta. Dimana tentu kota-kota yang potensial cukup disentuh dengan beberapa anggaran yang menumbuh kembangkan. Misalnya Pontianak, 1 tahun cuma 1 triliun. Bagaimana kalau 1 tahun kita bisa investasikan pengembangan kota hingga 3 triliun, 5 triliun. APBN kita cukup. Apalagi kalau seperti yang sampaikan Pak Gibran tadi, melibatkan berbagai cara pembiayaan yang melibatkan baik itu swasta maupun CSR. Jadi apa yang saya sampaikan selevel Jakarta itu target utama. Tetapi yang lebih penting dari itu adalah infrastruktur yang dibutuhkan, dipersiapkan dari potensi yang sudah ada. Sehingga kontak 40 kota itu benar-benar sudah menggunakan potensi yang sudah ada.

00:08:1300:08:43

Harap tenang, nanti kita akan berikan waktu untuk aplaus. Selanjutnya kita akan beralih ke pertanyaan untuk calon wakil presiden nomor 2, Bapak Gibran Raka Buming Raka. Untuk itu kita akan persilahkan panelis Bapak Suharnomo untuk mengambil undian subtema kelima dalam FISPOL. Silahkan diperlihatkan ke calon wakil presiden dan ke moderator Bapak.

00:08:4300:09:00

Infrastruktur. Pak Tauhid Ahmad, kami undang untuk mengundi huruf A, B, atau C. C.

00:09:0000:09:05

Infrastruktur huruf C. Masih tersekel Bapak.

00:09:0500:09:14

Mohon didengarkan dengan seksama, karena kami hanya akan membacakan satu kali.

00:09:1400:09:53

Pertanyaan untuk Bapak Gibran Raka Buming Raka dengan subtema infrastruktur. Dalam lima tahun biaya infrastruktur pada perusahaan strategis nasional sebesar Rp2.385 triliun dari APBN. Sementara untuk infrastruktur sosial seperti sanitasi dan air bersih masih memprihatinkan. Pertanyaannya, bagaimana strategi PASLON untuk memastikan penyediaan infrastruktur sosial tanpa membebani keuangan daerah? Waktu Anda untuk menjawab 2 menit, kita akan mulai ketika Anda berbicara. Silahkan.

00:09:5300:12:54

Baik, terima kasih. Jika kita bicara masalah sanitasi dan air bersih, ini nanti nyampung ke masalah stunting. Untuk masalah sanitasi, ini perlu kolaborasi banyak pihak. Misalnya apa yang sudah saya lakukan di Solo. Kita membangun ipal komunal di perumahan padat penduduk. Ini penting sekali. Lalu untuk kebutuhan air bersih, kita juga bekerja sama dengan kabupaten sekitar. Misalnya dengan Monogiri, Klaten untuk mendaparkan air bersih. Kita juga sekarang sudah ada proyek strategis nasional membangun beberapa bendungan dan embung. Ini nanti juga penting untuk meneruskan program pengairan nasional yang nanti berguna untuk pengairan air bersih dan juga untuk mengairi sawah. Kedepan, masalah sanitasi dan air bersih ini penting sekali. Karena kami dari Paslo nomor 2 ingin menyiapkan generasi-generasi emas yang sehat dan pintar. Kalau kita mengintervensi masalah stunting, kita juga harus mengintervensi tempat tinggalnya juga. Kita tidak bisa hanya memberikan gisi tambahan untuk ibu hamil dan lain-lain, tapi kita tidak menyentuh rumah tinggalnya. Jadi ini harus dikerjakan secara paralel. Stunting kita kerjakan, pemenuhan gisi kita kerjakan, sanitasi, drenase, air bersih, kawasan kumuh, ini harus kita selesaikan juga secara paralel. Terima kasih. Baik, saya berikan waktu untuk Pak Mahfud untuk menanggapi jawaban dari Pak Gibran. Mas Gibran yang terhormat, tadi itu pertanyaan yang dibaca oleh moderator. Bagaimana strategi Paslon untuk memastikan penyediaan infrastruktur sosial tanpa membebani keuangan daerah? Kayaknya belum terjawab. Tadi yang dijawab itu infrastruktur semua itu. Infrastruktur itu kan, ya ada infrastruktur sosial, itu yang penting. Kemudian regulasi. Bagaimana Anda menyiapkan regulasi sekarang ini agar semua itu bisa berjalan dengan baik? Kalau infrastruktur fisik mungkin bisa saja. Tapi masalahnya kita punya problem dengan infrastruktur sosial seperti yang ditanyakan tadi. Nah itu saya kira yang perlu dijelaskan. Lebih jauh selesai.

00:12:5400:13:03

Kita akan ke calon wakil presiden nomor 1, Bapak Muhammad Iskandar untuk menanggapi, waktunya 1 menit.

00:13:0300:15:13

Infrastruktur yang disampaikan Pak Gibran menjadi bagian dari yang perlu disediakan. Tapi infrastruktur sosial atau infrastruktur kerakyatan, pada dasarnya kita bisa melibatkan semua pihak untuk hadir dan memberikan solusi. Contohnya infrastruktur gedung-gedung sekolah yang memberikan kesehatan, kecerdasan bagi masa depan anak didik kita. Apa yang bisa kita lakukan? Kita bebaskan pajak buat seluruh penyelenggara pendidikan, supaya fiskalnya terpenuhi, supaya pendidikan bisa terjangkau. Sehingga untuk pendidikan yang berkaitan dengan pencerdasan kehidupan masyarakat kotanya, maka dibebaskan pajaknya. Ini seperti yang sudah dilakukan di Jakarta, yang ini bisa kita tarik ke tingkat nasional. Infrastruktur sosial tercipta dengan pemerintah memberi fasilitas yang memadai. Cukup Pak? Cukup. Baik, kita stop, countdown. Saya berikan kembali waktu untuk Pak Gibran untuk menanggapi atas tanggapan dari Pak Mahfud dan Pak Muhaymin. Baik, terima kasih. Mungkin Prof Mahfud dan Gus Muhaymin kurang paham dengan apa yang sudah saya paparkan. Saya tadi juga bicara masalah infrastruktur sosial, stunting itu lho Pak. Tapi enggak apa-apa, saya perjelas lagi, kita punya program makan siang gratis. Banyak yang nyinyir, tapi sekali lagi Pak, program makan siang gratis ini adalah investasi menuju Indonesia emas. Program makan siang gratis 400T ini adalah stimulan untuk ibu-ibu, warteg-warteg, warung-warung, catering-catering yang ada di daerah. Bayangkan, 400T mengucur ke daerah-daerah. Semua ibu-ibu ikut memasak makan siang untuk anak-anak kita. Itu Pak, yang saya maksud dengan infrastruktur sosial, program makan siang gratis, investasi ke depan untuk menuju Indonesia emas. Terima kasih. Tenang, kita akan lanjutkan.

00:15:1300:15:40

Harap tenang, kita akan lanjutkan. Selanjutnya kita akan beralih untuk pertanyaan calon wakil presiden nomor 3, Bapak Mahfud MD. Untuk itu kami persilakan panelis Bapak Yosi Rizal Damuri untuk mengambil undian subtema ke-6 dalam FISPOL. Silakan diperlihatkan ke calon wakil presiden dan ke moderator.

00:15:4000:15:57

Perdagangan. Dan Bapak Aditya Wardono untuk membantu kita mengundi huruf A, B, atau C. Perdagangan C. Terima kasih.

00:15:5700:16:00

Perdagangan huruf C, Pak Mahfud.

00:16:0000:16:08

Masih tersegel.

00:16:0800:16:53

Mohon didengarkan dengan sesama, karena kami hanya akan membacakan satu kali. Pertanyaan untuk Bapak Mahfud MD dengan subtema perdagangan. Untuk meliberalisasi perekonomian, Indonesia telah meratifikasi lebih dari 25 perjanjian perdagangan bebas. Tetapi, pemanfaatannya belum optimal untuk mendorong ekspor dan investasi. Pertanyaannya, bagaimana strategi paslon untuk mengoptimalkan pemanfaatan perjanjian-perjanjian tersebut guna meningkatkan ekspor dan memperkecil defisit neraca perdagangan. Waktu Bapak untuk menjawab dua menit, kami persilakan ketika Bapak mulai berbicara.

00:16:5300:22:19

Baik. Menurut saya, untuk mengoptimalkan pemanfaatan perjanjian-perjanjian, saya dan Mbak Sengganjar, kebetulan Ganjar Mahfud sudah berdiskusi lama tentang ini. Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang menjadi strategi kami. Pertama, mengutamakan diplomasi ekonomi. Sehingga para duta besar yang ada di luar negeri itu, menurut Pak Jokowi pada saat awal-awal kami dilantik, duta besar itu adalah duta ekonomi. Optimalkan diplomasi ekonomi dengan negara-negara lain. Kemudian yang kedua, juga kami akan melakukan perdagangan untuk mengintegrasikan perdagangan nasional kita ini ke perdagangan global. Sehingga menuai standar-standar internasional, untuk setiap apa yang kita punyai, mau dimasukkan ke dunia global itu, sudah jelas standarnya bisa diterima. Dan kita juga membuat regulasi di sini, agar tidak misalnya upaya perdagangan kita lalu di blokir atau dicurangi oleh teman-teman kita sendiri pelaku ekonomi di dalam yang berintegrasi atau berkoalisi dengan pejabat-pejabat publik. Kemudian, sudah kalian, kami akan mengutamakan penguatan ekonomi nasional. Agar ekonomi nasional itu juga bisa tumbuh ke dalam, sehingga nantinya masuk dengan strategi kedua tadi, bahwa kualitas barang dagangan kita itu bisa diterima di luar negeri dan produktif. Sehingga juga tidak susah misalnya untuk diterima oleh dunia internasional. Saya kira itu bagian strategi yang sudah kami diskusikan dan selesai. Pak Mahfud, saya persilakan Pak Mohaimin untuk menanggapi jawaban dari Pak Mahfud tadi. Pak Mahfud, kalau diplomasi sebagai pemasaran itu normatif ya, ini sudah menjadi pengetahuan umum. Yang paling penting itu adalah bagaimana nyelepet para diplomat berubah wajah menjadi pemasar-pemasar yang tangguh. Diplomasi pemasaran yang ekspansif itu tidak kita miliki. Karena memang seluruh cara kerja diplomasi kita masih politik dan sangat normatif. Yang kedua, kita bisa hadir di dalam dunia perdagangan global kalau kualitas produksi dalam negeri kita juga punya standar yang baik. Saya sampai hari ini sangat prihatin, kita tidak ada satupun yang terus mengupgrade secara masif kualitas dan standar, semuanya kayak dibiarkan tumbuh sendiri-sendiri gitu. Tidak ada satu gerakan yang lebih terstruktur, baik dari Menteri Perdagangan, Menteri Koperasi UKM, dalam satu gerakan untuk meningkatkan kualitas berstandar internasional. Paling konkret, hilirisasi. Kita jangan mau lagi mengirim barang mentah, kita harus mampu meningkatkan nilai tambah dalam negeri. Saya kasih contoh, nikel. Dulu sebelum ada hilirisasi, kita ekspor hanya 3 miliar USD. Sekarang setelah hilirisasi, bisa menjadi 33 miliar USD. Ini saya baru bicara masalah nikel lho Pak. Tembaga, boksi, timah, dan lain-lain. Konkrit, jelas, singkat padat, jelas. Terima kasih. Saya kira sistem rekrutmen diplomat sekarang ini harus ditinjau ulang. Dulu-dulu diplomat-diplomat kita itu bagus. Sekarang ini kadang-kadang ada titipan dari partai. Kalau belum dari partai, belum masuk, itu tidak disahkan. Di DPR, partai ini belum masuk. Nah sesudah bertugas, tidak jelas. Dia tidak mengerti, tidak punya pengertian dasar-dasar diplomasi. Sehingga diberi ke undang-undang, nanti diplomasi diatur kembalilah. Rekrutmennya itu, betul. Setelah hilirisasi, itu sudah masuk. Bicara soal penguatan ketahanan ekonomi nasional. Itu di dalamnya memang sudah ada hilirisasi dan industrialisasi yang aman lingkungan. Itu, selesai.

00:22:1900:22:21

Silakan Bapak.

Transkrip Suara ke Teks Murah dan Cepat dengan Teknologi AI

  • Rp10.000/file, durasi tak terbatas
  • 95% akurasi