πŸŽ‰ Dapatkan Transkrip Cepat dan Murah Hanya Rp10rb/rekaman πŸŽ‰

Anies Baswedan Bicara Gagasan Kebijakan Luar Negeri di CIFP 2023 _ 2 Desember.mp3

Transkrip.id1 Jam 31 Menit

Transkrip berikut dihasilkan secara otomatis dari aplikasi Transkrip.id. Ubah audio/video menjadi teks secara otomatis hanya Rp10rb dengan durasi tak terbatas. Coba Sekarang!

00:00:0000:00:47

Mari kita berikan tepuk tangan yang besar kepada Pak Andersen. Tepuk tangan dulu untuk Pak Dino Patijalal. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

00:00:4700:03:12

Selamat pagi, salam sejahtera buat semuanya. Yang saya hormati, yang saya banggakan ketua dan pendiri FPCI Dr. Dino Patijalal dan Rosa, sahabat kami bersama keluarga, yang saya hormati Pak Idam Polik, Komisioner KPU, dan juga tokoh yang selama ini menjadi rujukan bagi kami yang menyukai pembicaraan internasional, Profesor Hasim Jalal yang hadir bersama di sini, orang tuanya Pak Dino Patijalal. Yang saya muliakan, para duta besar negara-negara sahabat, yang saya muliakan para anggota KORPS Diplomatik yang hadir, perwakilan bisnis, komunitas akademis, dan semua peserta yang hadir pada acara CIFP 2023. Saya bersyukur sekali ketika Dino mengabari, saya sama Dino ini kalau ngomong selalu menyebut nama pertama, karena kita ini berteman sudah agak panjang. Pertama kali saya ngobrol dengan Pak Dino, saya masih mahasiswa di Amerika. Pada waktu itu Indonesia sedang dalam posisi pasca, Pak Sumadi ini ingat persis, pasca perkejadian 9.11, dan waktu itu Pak Dino direktur Amerika Utara, saya mahasiswa di Amerika Utara. Waktu itu lagi rame, jadi saya ketemu sebagai orang yang berada di pengasingan waktu itu, kita merasakan ada kebijakan-kebijakan di sana yang kita Indonesia harus lebih aktif. Jadi saya waktu itu kritis sekali sama pemerintah Indonesia, biasalah mahasiswa kan kritis. Tapi yang jawabin ini diplomat muda, yang ketika saya lihat ini cerdas betul, pantas menjadi representasi Indonesia di internasional, waktu itu Pak Dino Patinjala. 2001-2002, dan semenjak itu kita menjadi bersahabat dan senang sekali, forum ini makin hari makin besar. Nah, kali ini saya dapat sebuah tugas dari Dino untuk bicara tentang apa tantangan ke depan. Karena itu saya ingin sampaikan dalam kesempatan ini beberapa poin, mungkin saya akan mulai menyampaikan gagasan umumnya.

00:03:1200:04:17

Ketika kita melihat apa sebenarnya tantangan global sekarang. Pertanyaan ini menurut saya penting sekali untuk kita jawab dengan tepat. Karena kami pemerintah kita semua tahu, kalau formulasi pertanyaannya benar, maka itu sudah menyelesaikan sebagian dari masalah. Kami melihat ada empat wilayah yang sesungguhnya menjadi tantangan terbesar kita. Pertama adalah geopolitik yang bergeser dari unipolar ke multipolar. Ini multiple great powers yang sekarang kita saksikan. Lalu, epicentrum geopolitik ini berlalu. Geopolitik ini berlalu dari transatlantik ke Asia.

00:04:1700:14:24

Dan dulu kita bicara tentang Amerika Soviet, sekarang kita berbicara tentang Amerika China. Dan kita menyaksikan juga ancaman-ancaman yang sudah tidak lagi terjadi. Juga ancaman-ancaman yang sudah tidak lagi homogen. Tapi ancaman yang bisa disebut campuran antara militer dan non-militer. Kita mengistilahnya hibrit. Kemudian ini grey jenis-jenis ancamannya. Tidak perang tapi juga tidak damai. Dan multi dimensi, ada cyber, ada course economy. Dan dampaknya dari situasi ini adalah muncul gejala atau penurunan trust. Meningkatnya distrust antar negara. Bahkan slogan latin, civis pacem para velum, jika ingin damai bersiaplah perang juga makin nyaring. Ini menandai bahwa arm risk itu muncul. Kita tidak membayangkan, saya waktu itu ke Inggris triple IS diskusi. Tidak membayangkan di awal tahun 2022 percakapan tentang peningkatan anggaran pertahanan. Itu muncul di banyak negara. Kita sedang memikirkan peningkatan anggaran lingkungan hidup, kesejahteraan. Tau-tau sekarang munculnya peningkatan anggaran pertahanan. Itu 3 tahun yang lalu tidak terbayang. Sekarang muncul sangat kuat. Lalu yang kedua adalah aspek ekonomi. Aspek ekonomi kita menyaksikan pergerakan arus modal dari negara berkembang ke negara maju. Karena perubahan suku bunga dari the FED. Dan kita menyaksikan disrupsi produksi terkait dengan teknologi yang berdampak kepada geopolitik. Kita memiliki misalnya ketergantungan gandum pada Ukraine hampir 30%, pupuk pada Rusia 15%, dan ketika mereka berdua terlibat di dalam konflik dampaknya terasa. Lalu rivalitas antara Barat dengan Cina yang berdampak kepada bagaimana kita mulai transisi energi bersih. Kebetulan 85% dari kapasitas peluang rantai teknologi bersih ini ada di Cina. Lalu kita menyaksikan fakta-fakta ekonomi baru yang menunjukkan kompetisi sistem ekonomi global itu meningkat signifikan. Ditambah dengan adanya aging demografi dimana orang-orang usia produktif dengan usia pasca produktif proporsinya berubah signifikan. Ini semua merupakan salah satu fenomena penting di tingkat global. Yang ketiga yang saya rasa paling mendasar dan paling berdampak adalah lingkungan hidup. Ada ketidakadilan iklim di sini. 12% penduduk dunia berada di negara maju memproduksi lebih dari 50% emisi karbon dunia. Tapi dampak dari greenhouse gas emission itu dirasakan seluruh dunia khususnya kepada mereka yang tidak mampu. Di Indonesia kita merasakan ketika terjadi pergeseran kita menyebutnya bukan climate change tapi climate crisis. Ini yang paling merasakan justru yang paling bawah. Ketika kemarin merasakan ada heatwave di Jakarta dan Indonesia bagi yang mampu tinggal nyalain AC nyaman. Tapi bagi yang tidak itu luar biasa dampaknya pada kesehatan dan lain-lain. Dan sampai sekarang kita tahu target mitigasi, target adaptasi untuk perubahan iklim ini belum terpenuhi. Dunia mengarahkan perubahan kenaikan suhu ini bukan lagi 1,5 derajat seperti Paris Agreement tapi di prediksi mungkin 2,5 sampai 3 derajat dan itu dampaknya luar biasa. Bagi kita di Indonesia apalagi permukaan air laut akan sangat berubah dan dampaknya di negara kepulauan seperti Indonesia akan sangat besar. Nah yang tidak kalah penting keempat soal demokrasi. Kita menyaksikan bahwa terjadi democratic backsliding seluruh dunia. Banyak negara-negara yang bergerak ke arah non-demokrasi, mau dibilang otoriter belum nampak lalu juga bergerak ke arah less good governance. Tapi mau dibilang korup juga belum. Tapi jelas kita tidak lagi berada dalam track democratic consolidation, good governance itu seperti tema yang dulu populer hari ini menurun. Dan ini bukan hanya dialami di beberapa negara, ini fenomena dunia. Hampir 37% populasi dunia itu sekarang berada di dalam sistem rejim otoriter. Lalu indeks demokrasi 92 negara stagnan atau turun. This is no good, worldwide. Lalu indeks persepsi korupsi khusus untuk Indonesia jelas mengalami penurunan yang signifikan. Dari nomor 36 tahun 2019 sekarang menjadi ke 34 which is no good. Dan minim praktek demokrasi dalam politik luar negeri dan tambah lagi bila di dalam negeri kita tidak mempraktekan demokrasi, good governance tidak mungkin mengkambanyakan keluar. Nah ini adalah contoh-contoh 4 tantangan yang menurut kami penting untuk kita bahas bersama. Saya akan lompat saja kepada pentingnya Indonesia ke depan. Saya sepaham dengan pandangan bahwa Indonesia sudah tidak boleh lagi hanya menjadi penonton dan partisipan pasif di gelanggang dunia. Indonesia terlalu besar, terlalu berpotensi untuk jadi penonton di samping. Indonesia harus tampil di depan, Indonesia harus menjadi agenda setter bagi percakapan dan arah perkembangan dunia. Dan sudah sepatutnya kita punya sejarah yang gemilang. Ini saya tunjukkan di sini beberapa ilustrasi bagaimana gagasan awal Bung Karno pada waktu itu menggagas tentang konferensi Asia Afrika. Di saat Indonesia masih miskin, tapi konferensi Asia Afrika itu menjadi inspirasi ke seluruh dunia. Bagaimana the spirit of Bandung itu menginspirasi para pemimpin-pemimpin gerakan kemerdekaan di Afrika, di Asia. Dan gagasannya bukan tentang bagaimana negara lain datang ke Indonesia, gagasannya bagaimana Indonesia mengekspor gagasan, mengekspor pikiran, mengekspor terobosan-terobosan untuk menjadi inspirasi bagi dunia. Kadang-kadang ketika kita berbicara di tataran global, kita berbicara tentang apa yang kita ingin dapatkan langsung. Menurut saya di dalam konteks ini kita harus lebih luas dan lebih panjang jangkauannya. Ini saya beri ilustrasi sedikit, saya masih jadi rektor di Paramadina, waktu itu ada seorang duta besar dari Kanada datang mau ketemu. Ketika beliau mau ketemu saya lihat CV-nya, lalu di CV-nya tertulis desertasinya adalah tentang konferensi Asia Afrika. Unik juga ini Pak Dubes ini, ada Dubes Kanada di sini atau utusan dari Kanada. Terima kasih, nanti saya lupa nama beliau tapi itu sekitar tahun 2008-2009. Lalu ketika dia datang saya tanya, gimana kok nulisnya desertasi, oh iya saya waktu itu diplomat muda ditempatkan di Afrika, lulusan dari Kanada. Waktu dia ditempatkan di Afrika dia datang ke berbagai pertemuan, dia bilang acara-acara itu kutipan tentang the spirit of Bandung itu dibicarakan terus dimana-mana. Jadi saya ingin tahu apa the spirit of Bandung, sampai akhirnya desertasinya adalah tentang konferensi Asia Afrika. Kami di Indonesia menyadari itu ketika memperingati konferensi Asia Afrika 50 tahun, 60 tahun. Tapi dunia merujuk itu sebagai inspirasi, bagaimana sebuah bangsa yang beragam luar biasa mampu bersatu dengan punya bahasa persatuan, lalu mampu bergerak untuk mengusir kolonialisme dan itu dikerjakan sebagai sebuah gerakan yang masif, itu inspirasi bagi dunia yang kita sendiri mungkin belum menyadarinya. Ini contoh bagaimana Indonesia artikulatif dan itu dilakukan juga paling tidak kalau kita saksikan sampai dengan era kepemimpinan lintas kepresidenan dan saya ingat Pak Dino Waktu itu menjadi juru bicara...

00:14:2400:20:57

Values itu penting, kalau kita punya values kita punya arah, mana yang harus kita kerjakan. Mungkin saja di dalam perjalanan harus ada kompromi-kompromi, tetapi kalau ada kompromi dan deviasi terjadi maka kita tahu kapan harus kembali lagi dan bagaimana kembali lagi karena punya pegangan nilai. Tapi kalau tidak ada nilai, dalam perjalanan kita akan melakukan negosiasi kompromi-kompromi Kalau tidak ada pegangan nilai bisa off dan makin jauh dari apa yang sebenarnya menjadi tujuan kita, karena itulah kenapa values itu penting sekali untuk kita miliki. Apa values yang perlu kita pegang? Kami melihat adalah satu, privacy of human life, yang kedua territorial integrity, yang ketiga fairness and justice, yang keempat stewardship toward nature dan ini adalah pegangan nilai kita, disamping bansesila, disamping pengalaman-pengalaman kita menjadi agenda setter dan kekuatannya cerdas karena kita ingin mengkombinasikan aspek hard power dengan soft power berjalan beriringan. Nah bagaimana ini secara depan, kami melihat politik luar negeri kita yang depan perlu mengandalkan lima pilar, satu adalah pertahanan yang adaptif, yang kedua ekonomi berkeadilan yang maju, yang ketiga lingkuan yang lestari, yang keempat brand Indonesia, yang kelima diplomasi proaktif yang inklusif. Pertahanan adaptif artinya strategi pertahanan kita harus adaptif dengan tantangan global. Indonesia harus punya angkatan bersenjata, kapal, pesawat yang modern, yang siap untuk menjaga alur laut kepulauan Indonesia. Kemudian kita harus memiliki kapasitas untuk memantau ancaman kepas mantai, kita harus punya sistem cyber untuk melindungi rakyat di ranah digital, ini contoh-contohnya. Yang kedua ekonomi berkeadilan, negara yang kuat itu lahir dari ekonomi dan rakyat yang makmur, rakyat yang sejahtera. Karena itu kami melihat perlunya menjangkau dan membuat free trade agreements yang fair. Jadi mungkin namanya free and fair trade agreement yang harus kita bangun sama-sama. Kita menyaksikan bagaimana Singapura, Malaysia memiliki praktis perlindungan atas data, perlindungan atas kekayaan efektual. Yang ketiga lingkungan yang lestari, lingkungan yang memungkinkan Indonesia memiliki daya tawar di dunia, punya daya tarik di dunia untuk nantinya interaksi dengan generasi-generasi masa datang khususnya. Dan ini adalah mencakup beberapa aspek. Satu, akselerasi transisi energi berkeadilan. Yang kedua, optimalisasi instrumen-instrumen untuk nilai ekonomi dari karbon. Yang ketiga, proaktif dalam forum-forum global untuk terlibat dalam aksi global yang terkait dengan hidup. Kalau boleh saya bercerita, ketika kami bertugas di Jakarta, saya aktif di forum namanya C40. C40 adalah asosiasi kota-kota besar dunia dan di situ mendorong perubahan kebijakan kota-kota untuk lebih kawal lingkungan dan menangani polusi. Dan Alhamdulillah di dalam kepemimpinan C40 ini, ketuanya adalah Wali Kota London, wakilnya adalah Gubernur Tokyo, dan satunya lagi Gubernur DKI Jakarta. Sebagai wakilnya. Kita tidak menjadi penonton, tapi kita ikut di dalam mewarnai kebijakan-kebijakan terkait dengan kota-kota dunia. Dan apa yang terjadi, Jakarta waktu itu menjadi salah satu contoh, bahkan di tahun 2021, Jakarta mendapatkan nomor satu sedunia sustainable transport work, karena transformasi bilang transportasi yang terjadi di Jakarta. Yang keempat adalah brand of Indonesia. Ini kunci dari diplomasi kita salah satunya ini. Saya ingat Pak Dino ini sering berbicara tentang bagaimana kuliner itu menjadi salah satu kekuatan kita. Dan kita harus membuat Indonesia menjadi salah satu tujuan, tapi harus bisa menjadi tamu mempersona di luar. Kita sering berbicara, kita harus jadi tuan rumah di negeri sendirinya, itu bagus. Tapi kalau cuma tuan rumah di negeri sendirinya, itu tidak bagus. Kita harus mempersembahkan rumah-rumah kebudayaan Indonesia di berbagai wilayah dunia. Biarkan dunia datang. Kita harus mempersembahkan rumah-rumah kebudayaan Indonesia di berbagai wilayah dunia. Biarkan dunia datang. Kita harus mempersembahkan rumah-rumah kebudayaan Indonesia di berbagai wilayah dunia. Biarkan dunia datang. Kita harus mempersembahkan rumah-rumah kebudayaan Indonesia di berbagai wilayah dunia. Biarkan dunia datang. Kita harus mempersembahkan rumah-rumah kebudayaan Indonesia di berbagai wilayah dunia. Biarkan dunia datang. Kita harus mendapatkan Michelin Star. Kita ingin restoran-restoran Indonesia bukan hanya hotel memiliki Michelin Star. Kita ingin restoran-restoran Indonesia bukan hanya hotel memiliki Michelin Star. Dan itu diakui oleh dunia. Dan itu diakui oleh dunia. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan.

00:20:5700:21:23

Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan.

00:21:2300:21:25

Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan.

00:21:2500:23:21

Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Dan kita ingin Indonesia untuk orang menyaksikan bahwa kita memiliki kekuatan. Foto best rated soup di Asia. Kalau ada. Di sini ada. Kalau enggak ada tolong dibantu disiapkan. Ada. Nah ini dia. Indonesia itu, nomor kalau ditanya, apa best rated soup di Asia? Namanya Rawon. Nomor satu di Asia. Kemudian nomor dua dari mana nih? Filipina. Nomor tiga apa? Nomor tiga di dunia. Coba sekarang. The most iconic ice cream. Keluarin dong yang ice cream. Ragusa S Italia. Pak Dubes Itali, kami pinjam namanya. Dan satu lagi Zang Randi. Ini dari mulai tahun 32 sampai sekarang. Coba sekarang. Deep fried dessert in the world. Nomor satu. Gorengan paling terkemuka di dunia. Bayangin coba. Makanan kampung ini bukan? Kan makanan di mana-mana. Dan itu dikatakan sebagai nomor satu di dunia. Kapan restoran Indonesia menjadi restoran-restoran nomor satu di dunia? That's our purpose. That's our objective. Kami ingin agar kita berdiplomasi dengan soft power yang dahsyat. Dan kami ingin nantinya seperti sekarang di Jakarta ada restoran Jepang, bahkan restoran Brazil, restoran Argentina, restoran Korea. Mana restoran Indonesia di kota-kota besar dunia. Itu akan menjadi salah satu prioritas utama di dalam soft power diplomasi kedepan.

00:23:2100:23:27

Oh, CNN. World Best Food 2017.

00:23:2700:23:29

Coba.

00:23:2900:23:31

Nomor satu apa?

00:23:3100:23:33

Rendang.

00:23:3300:23:35

Nomor dua?

00:23:3500:26:39

Nasi goreng. Sedunia Bapak Ibu. Anyway. Kita menikmati makanan ini nanti ya. Tapi kita kembali kepada poin kita tadi. Bahwa kita menginginkan itu semua. Jadi, kedepan Indonesia perlu lebih proaktif. Dan supaya lebih proaktif, kita membutuhkan kegiatan diplomasi yang lebih inklusif. Diplomasi yang lebih terbuka. Dan kami melihat bukan hanya diplomat, tapi juga semua termasuk kaum muda menjadi ujung tombak Indonesia di dunia internasional. Jadi kami sangat menginginkan diaspora Indonesia di luar negeri menjadi ambasador-ambasador kita. Dan kita ingin agar mereka mendapatkan kesetaraan kesempatan dalam banyak aspek. Supaya diaspora ini menjadi kekuatan. Kebetulan Nino juga yang mendorong kekuatan diaspora. Ini harus kita dorong lebih kuat lagi. Karena kita tahu bahwa kehadiran mereka membawa warna Indonesia. Hari ini datang institusi internasional, kita akan ketemu banyak sekali diaspora India, diaspora Jepang, diaspora Filipina. Mana Indonesia? Dan berhenti untuk kita memandang bila ada orang Indonesia bekerja di internasional, berarti tidak nasionalis. Tidak. Mereka bisa bekerja di sana dan membawa nama Indonesia untuk berada di gelanggang internasional dan berhenti menyebut mereka sebagai anasionalis. Mereka sama nasionalisnya dengan kita. Biarkan mereka di sana membawa gagasan dari kita. Nah anak-anak muda juga begitu. Jadi kami berpandangan untuk kita melakukan ini seperti pandangan kami bahwa dalam pemilu ini seperti sepak bola, maka di dalam diplomasi kita perlu total futbol. Semua mengejar ini semua. Seluruh unsur dan negara harus tidak gampang cemburu dengan aktor-aktor non-negara. Negara itu justru memberikan fasilitas yang setara karena mereka memainkan peran yang tidak kalah penting. Jadi itu yang kami rencanakan dan sebagai kesimpulan kita ingin Indonesia mendunia dan kita aminkan Indonesia sama-sama. Indonesia mendunia ya insyaallah amin aja dulu gitu kira-kira. Kan mulai dengan amin dulu nanti sambil kita memulai kerjanya. Bagi teman-teman yang tertarik untuk melihat visi misi secara lengkap ada QR code-nya disitu silahkan di download dan nanti kita bahas sama-sama. Demikian paparan awal kita ngobrol lebih jauh.

00:26:3900:27:15

Mari kita berikan tepuk tangan sekali lagi ke Pak Anies. Dan Pak Anies tenang saja saya ada disini. Anies yang mau serang dengan rapid fire questions.

00:27:1500:27:37

Attack. Rapid fire questions. Rapid fire. Rapid fire questions. Attack.

00:27:3700:27:47

Go.

00:27:4700:28:15

Kepanjangan dari FPCI. We should always stay as member of the global community. Krisis mana yang bapak anggap akan datang lebih dulu? Krisis moneter atau pandemi?

00:28:1500:28:17

Krisis moneter.

00:28:1700:29:35

Bagaimana menurut bapak apakah Indonesia harus jago kandang atau jago dunia? Indonesia harus tuan rumah di negeri sendiri dan jago di dunia. Siapa diplomat atau menlu versi bapak yang jadi role model? Nomor satu, Agus Salim. Bapak diplomat Indonesia. Kedua, saya kagum dengan Muhammad Rum. Kemudian yang ketiga, Pak Muhtar Kusumaatmaja yang berhasil mendapatkan UN clause. Dan yang tidak kalah penting adalah salah satu orang yang sebenarnya berpotensi jadi sekjen PBB, tapi karena ada beberapa persalahan adalah Bapak Ali Alatas. Dimana posisi anak muda dalam kebijakan luar negeri di periode bapak nanti? Menjadi salah satu, seperti saya sampaikan tadi, anak muda harus menjadi bagian dari diplomasi dunia. Apa yang mereka kerjakan melalui digital atau non digital, negara harus memfasilitasi. Tiga negara pertama yang akan bapak kunjungi apabila bapak menjadi presiden? Pertama adalah kembali hadir di dalam sidang umum PBB.

00:29:3500:29:39

Nomor satu.

00:29:3900:30:09

Karena kalau hadir di sidang umum PBB maka otomatis saya akan bisa melakukan bilateral meeting dengan berbagai kepala negara dalam satu kali kunjungan. Dan bukan menjadi partisipan penonton, tapi partisipan yang membawa gagasan Indonesia untuk arah ke depan dunia. Yang kedua adalah tetangga-tetangga kita. Tetangga-tetangga kita adalah sahabat terdekat, itu yang harus kita jangkau. Dan yang berikutnya ketiga, saya ingin bisa datang ke tanah

00:30:0900:30:13

Palestina.

00:30:1300:31:41

Dan yang kedua adalah, Palestina merdeka dalam berapa tahun? 10, 20, atau 50 tahun? Berapa tahunnya hanya Tuhan yang tahu. Tetapi, seperti Indonesia dulu, tahun 28 kita deklarasi sumpah pemuda. Kemudian kita berjuang, itu panjang, 08 kita sumpah budi utomo dengan kebangkitan nasional. Kalau saat itu ditanya kapan Indonesia merdeka, kita belum tahu tanggalnya, waktunya, tahunnya. Tapi satu hal yang pasti, kita sekarang selalu dukung Palestina supaya kita menjadi bagian dari sejarah yang memperjuangkan Palestina merdeka. Menurut Bapak, apa saja 5 negara strategis bagi Indonesia untuk memperluas kerjasama internasional? Pertama, dari aspek ekonomi. Kita memiliki partner strategis. Satu adalah Cina, Jepang, kemudian Uni Eropa, Amerika Serikat, Singapura. Itu dari aspek itu. Kedua, aspek kebudayaan, aspek sosial, keagamaan. Maka kita punya hubungan yang intensif antara Indonesia dengan negara seperti Saudi Arabia, dimana jutaan orang Indonesia datang kesana untuk kegiatan keagamaan. Lalu kita juga menyaksikan di dalam kapasitas hubungan internasional. Australia adalah mitra yang penting di dalam konstelasi internasional.

00:31:4100:31:45

Kira-kira begitu jawabnya.

00:31:4500:33:11

Selanjutnya, menurut Bapak, apakah kita dapat mencapai tujuan bersama dunia untuk mencapai suhu dunia di bawah 1,5 derajat celcius? Nampaknya 1,5 derajat celcius itu sudah tidak lagi mudah dijangkau. Seperti saya sampaikan tadi, kita nampaknya kondisinya mengarah pada 2,5 sampai 3 derajat celcius. Tapi menurut kami, semua kesepakatan global tentang lingkungan hidup harus dilaksanakan dan salah satu kunci utamanya adalah kawasan urban. Jadi menurut kami, kita punya tanggung jawab untuk menjaga itu karena konsekuensinya ada pada Indonesia dengan negara kepulauan. Cuma angka 1,5 nampaknya tidak sesuai dengan kenyataan hari ini. Which is more important to Indonesia, the G20 or ASEAN? The ambassadors are looking at you now. Benedetto. Ambassadors and friends, can you take off your headset? Menurut saya, dengan Indonesia sebagai sebuah negara di Asia Tenggara yang bersahabat, kita harus menjaga prioritas

00:33:1100:33:17

pada ASEAN.

00:33:1700:33:59

Tapi ini kan selalu begini, ini bukan mutually exclusive. Tapi kalau ditanya harus milih, ASEAN dulu, baru G20. Apa tuh mutually exclusive itu pasti Indonesia nya apa? Mutually exclusive. Anybody know? Mutually exclusive itu gini, kalau ambil yang satu berarti enggak yang satunya. Itu mutually exclusive. Tapi kalau ini sebetulnya prioritas, ini juga, ini iya, tapi urutannya berbeda, gitu kira-kira. What was your favorite subject at school? What was my favorite subject when I was in school?

00:33:5900:34:03

Satu, sports.

00:34:0300:35:13

Saya ini dulu pegulat loh, SMA saya ikutnya gulat gitu. I am a wrestler and I spend a lot of time, dan kalau wrestling itu kalau olahraganya luar biasa latihannya, bangganya tuh kalau dibilang gini, good, you're animal. Coba bayangin, dibilang binatang itu bangga gitu, karena kalau wrestling itu kuat sekali. Nomor satu sports, yang kedua saya senang sejarah, yang ketiga like it or not, saya senang matematika. Apabila Bapak bisa makan malam dengan tiga orang, baik secara historical, fictional ataupun celebrity, siapa yang akan Bapak ajak makan malam? Berapa orang? Tiga, Pak. Tiga orang makan malam. Ini boleh fictional? Boleh, Pak. Boleh betul-betul imajinasi total? Iya, Pak. Gak harus hari ini ya? Gak harus, Pak. Jangan sampai salah gitu kan? Ini, nomor satu Mohamad salam.

00:35:1300:35:15

Nomor satu.

00:35:1500:35:23

Lo boleh milih kan? Yang kedua, saya akan ngobrol sama Nelson Mandela.

00:35:2300:35:25

Nelson Mandela.

00:35:2500:35:35

Kemudian yang ketiga, saya akan ngobrol dengan ini salah satu orang yang saya pernah datangi rumahnya.

00:35:3500:35:39

Mahatma Gandhi. Tiga itu.

00:35:3900:35:55

Baik, selanjutnya, apabila Bapak bisa menjadi seorang superhero, Bapak ingin menjadi siapa? Apabila Bapak ingin menjadi seorang superhero, Bapak ingin menjadi siapa? Superman, Batman, atau Hulk?

00:35:5500:35:59

Gadut Koco.

00:35:5900:36:11

Betul, itu superhero masa kecil saya tuh bacanya Gadut Koco waktu itu. Oke, terima kasih. Kita berikan tepuk tangan pada serangan rapid fire.

00:36:1100:36:15

Thank you.

00:36:1500:37:45

Pak Anies, kita lanjutkan obrolan kita. Kita banyak mendengar kalau di sirkuit diplomat, perdebatan mengenai the world order. Orang banyak bilang mengenai pentingnya rules based world order dan lain sebagainya. Ada orang yang bilang yang ada harus dipertahankan buatan dari dunia barat atau global south bilang tidak bisa harus dirubah. Menurut Pak Anies, world order itu apa pandangannya Pak Anies terhadap world order yang sekarang ada? Ini sebenarnya kalau kita menyaksikan apa yang kami tadi bilang, kalau dulu ada dual polar kira-kira barat dan timur, kemudian unipolar, sekarang kita menghadapi situasi multipolar. Dan dalam menghadapi situasi multipolar itu, Indonesia harus memandang dirinya sebagai negara besar. Saya pernah berdiskusi dengan pimpinan sebuah negara kecil. Dia mengatakan begini, Pak Anies, our country is too small to influence conversation in the world. So our role is to anticipate change and navigate through these changes. But your country is a big country that you can influence

00:37:4500:37:47

the course of the world.

00:37:4700:38:51

Dan itu pandangan dunia pada kita. Karena itu saya melihat, ini multipolar, tapi Indonesia harus step in dan disini berbicara tentang bagaimana menyusun sebuah tata dunia yang lebih adil, yang lebih damai, yang memiliki sebuah kesepakatan-kesepakatan yang memungkinkan prosperity naik, nature terjaga. Dan menurut saya itu agenda-agenda utama di level dunia. Salah satu fitur utama yang sekarang kita lihat adalah rivalitas geopolitik, terutama antara Amerika dan Tiongkok. Tapi juga antara Barat dan Rusia, China-Jepang, India-Tiongkok, dan lain sebagainya. Dan nampaknya rivalitas ini bukan suatu yang jangka pendek, tapi jangka menengah. Dalam arti dalam 10-20 tahun ke depan akan tetap ada. Menurut

00:38:5100:38:53

Pak Anies,

00:38:5300:42:15

gimana Indonesia navigate dalam dunia yang serba penuh dengan tarik-menarik dan rivalitas antara gajah-gajah ini? Menurut kami, kita harus memiliki nilai yang kita pegang di dalam menafigasi peran Indonesia di dunia. Values based diplomacy. If you have values, it will direct your behavior. Tapi if you don't have values embedded on you, then you will be trapped into pragmatism. Karena tanpa nilai, kita akan berbicaranya mana yang menguntungkan, mana yang merugikan. Dan kalau kita berbicara di dalam datara internasional, menguntungkan dan merugikan, maka kita akan ketemu dengan situasi inkonsistensi. Tapi kalau kita memiliki values, maka kita akan memiliki konsistensi. Jadi saya melihat ini penting sekali. Jadi kalau kita sebut misalnya adalah satu, penghargaan atas nyawa manusia. Yang kedua, penghargaan atas integritas teritorial. Kalau itu kita pegang sebagai nilai, maka kalau ada negara menganeksasi negara lain, menyerang negara lain, kita akan bilang that's against our value. You may be our friends, but what you are doing is not right. What you are doing is wrong. Tapi kalau kita tidak punya nilai, maka kita akan lihat, ini siapa yang aneksasi. Kalau yang aneksasi punya interaksi bisnis yang besar, kepentingan ikon yang besar, yaudah let them go. Tapi kalau kita punya dependensi yang kecil, maka we'll challenge. Apa yang terjadi? Kita akan terjebak di dalam pragmatisme. Yang ketiga, fairness and justice. Fairness and justice pada dunia. Yang keempat adalah tentang lingkuan hidup, sustainability, stewardship toward the earth. Jadi di dalam konstelasi dua polar ini, menurut kami pegang itu, lalu aktif di dalam forum-forum untuk membuat jembatan antar mereka. Dan kita punya, menurut saya, kapasitas ke situ. Kita punya diplomat-diplomat hebat. Dan saya kalau setiap kali ketemu dengan generasi baru diplomat Indonesia, saya menemukan best mind. Saya kagum dengan rekrutmen kementerian luar negeri selama 10-15 tahun terakhir ini. Karena merekrut anak-anak terbaik kita. Saya rasa kita punya generasi baru yang luar biasa. Jadi seperti kita memandang Pak Dino di tahun itu, kita melihat, menyaksikan potensi itu. Jadi we have the capacity untuk kesana. Cuman narasinya gak bisa dari diplomat. Narasinya tuh harus dari head of the state. Harus dari pimpinan negara. Kalau pimpinan negara mendorong untuk Indonesia berperan, hadir di forum G20 bukan sebagai partisipan saja, tapi hadir disana mendrive issue, mendrive gagasan, maka kita akan bisa mewarnai percakapan multipolar

00:42:1500:42:19

tadi.

00:42:1900:44:39

Pak Anies, satu hal yang komunitas akademik, hubungan internasional melihat dalam 9 tahun terakhir ini, Indonesia tidak punya grand strategy dalam politik luar negeri. Dan ini sebenarnya bukan suatu hal yang terlalu buruk. Kalau kita tanya banyak negara lain, kamu punya grand strategy, gak banyak. Segelintir aja. Tapi saya ingin tetap menanyakan, misalnya Pak Anies jadi presiden nanti, tanpa memaparkan apa itu grand strategy karena mungkin masih perlu diremuskan, tapi apakah Pak Anies memandang penting politik luar negeri Indonesia itu di atas fondasi bebas aktif harus punya suatu grand strategy? Kalau kami melihat, Indonesia perlu memiliki itu. Indonesia perlu memiliki grand strategy. Dan kami melihat tadi yang kami sebut sebagai hard power dan soft power itu metode yang perlu kita kerjakan. Tapi kami melihat bahwa Indonesia harus menjadi sebuah negara yang kehadirannya dan perannya itu dirasakan oleh dunia. Ini negara dengan ukuran penduduk keempat di dunia. Negara dengan pengalaman kebangsaan yang tidak banyak bangsa lain yang miliki. Negara dengan kekuatan ekonomi yang potensinya sangat besar. Negara dengan pengalaman demokrasi yang luar biasa. Bekal-bekal itu semua harus kita bawa ke dataran internasional. Sehingga, kita mengkampanyekan peran-peran itu di dalam kancah internasional. Kita coba perhatikan, ketika ada kerjasama ekonomi, mereka menuntut dalam kerjasama ekonomi itu aktivitas kebudayaan. Mengharuskan ada kebijakan kebudayaan ABCD di negara mitranya. Kita perlu melakukan hal yang hampir sama. Jadi saya melihat grand strategy itu diperlukan, itu menjadi guideline, dan orientasinya pada grand strategy ini tidak transaksional. Jadi bukan sekedar untuk mendorong investasi dalam negeri. Hubungan internasional itu jauh lebih besar daripada mendorong investasi dalam negeri. Hubungan internasional itu harus bisa bagaimana kita membawa apa yang menjadi kekuatan kita untuk berada di kancah

00:44:3900:44:41

internasional.

00:44:4100:45:33

Pak Anies tadi bicara ASEAN prioritas utama bagi Indonesia dan melebihi dari arrangement kita dengan kelompok-kelompok lainnya. Tapi menurut Pak Anies itu apa tantangan terbesar bagi ASEAN ke depan? Karena sekarang kan ASEAN berfungsi dalam suasana yang jauh lebih kompleks. Ada Quad, ada AUKUS, ada Shanghai Cooperation Organization di timur dan lain sebagainya. Jadi ASEAN harus terus menjaga sentralitas dan persatuan. Kira-kira apa tantangannya? Menurut saya salah satu tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai bersama di ASEAN ini itu ditaati oleh semua

00:45:3300:45:35

anggota ASEAN kita.

00:45:3500:45:39

Ketika terjadi peristiwa di Myanmar 2021,

00:45:3900:45:41

maka

00:45:4100:46:49

ASEAN di sini kelihatan limpung. Kita tidak bisa terlihat tidak asertif kepada Myanmar. Sementara kita melihat bahwa di region ini adalah region yang mendorong prosperity dan prosperity itu mengharuskan keterbukaan dan keterbukaan itu artinya ada ruang untuk berdemokrasi, ada ruang untuk kebebasan ekspresi, ruangan untuk kebebasan pasar, tapi juga fairness. Itu menurut saya salah satu tantangan yang besar. Kalau di antara lima negara utama ASEAN, saya rasa sudah selesai. Kita punya kekuatan itu di negara-negara utama ASEAN, tapi dengan sepuluh, ini kita masih punya PR. Menurut saya di situ letak PR kita. Meyakinkan bahwa semuanya conform kepada prinsip-prinsip yang membuat ASEAN itu betul-betul vibrant. Isu sensitif, IKN.

00:46:4900:46:51

Apa?

00:46:5100:48:41

Atau saya perlu skip? Atau tetap tanyakan? Mungkin tanya sama para dubes juga disini. Ada rencana mindah kantor embasinya apa enggak ya? IKN, proyek besar dan sekarang telah menjadi salah satu agenda utama diplomasi Indonesia. Dalam arti tiga tahun lalu tidak ada, empat tahun lalu, sepuluh tahun lalu tidak ada tentu karena ini suatu ide yang baru ya. Tapi telah menjadi agenda diplomasi Indonesia mencari bantuan asing untuk membangun IKN. Ada pandangan bahwa IKN itu adalah pedaulatan kita. Anak, gadis kita yang paling kita sayangi ya. Dan untuk membangun itu jangan minta orang luar, dunia internasional, karena ini adalah harga diri dan kedaulatan Indonesia dan sebagian besar negara-negara yang membangun Ibu Kota baru, mereka menganggap ini adalah urusan dalam negeri dan tidak minta ke pemerintah negara lain atau suasana negara lain. Ini gimana pandangan ini? Should it be part of diplomacy, big agenda atau ini dalam negeri kita jaga sendiri dengan kemampuan kita? Ini saya jawab sendiri atau dijawab seruangan? Jadi pertanyaannya apakah ini membantuan, ah gini Pak Dino sebelum saya jawab itu, kira-kira dua minggu lalu saya bertemu dengan seorang ibu. Ibu-ibu usianya

00:48:4100:48:43

20an tahun

00:48:4300:51:41

Women of Wisdom, jadi orang yang sangat bijak. Dia itu bilang begini ke saya, ibu-ibu ini, Pak Anies gimana soal IKN? Terus saya, sebentar-sebentar, sebelum saya jawab, menurut pandangan ibu gimana? Terus ibu bilang gini, Pak, kalau saya di rumah saya ini, anak-anak saya masih perlu uang buat sekolah, masih harus membiayai kredit motor, masih harus membiayai kebutuhan-kebutuhan rumah tangga, lalu uang saya terbatas, masa saya ambil kredit untuk bikin rumah baru? Saya masih harus menyelesaikan kebutuhan rumah tangga saya, dalam situasi begitu, masa saya malah bikin rumah baru? Ini kata beliau, simple sekali, tapi itu sama seperti pertanyaan tadi, dalam situasi kita masih harus menyelesaikan PR-PR yang urgent, nampaknya itu yang harus kita prioritaskan. Jadi kalau saya melihat konteksnya internasional, maka dukungan internasional untuk membangun fasilitas kesehatan yang baik di seluruh Indonesia, dukungan untuk membantu fasilitas pendidikan, fasilitas-fasilitas dasar yang hari ini belum selesai, itu lebih urgent daripada untuk membangun sebuah kota. Karena kalau kita lihat, manfaat dari pembangunan fasilitas kesehatan itu akan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Tapi kalau di sini dirasakan oleh aparat negara, yang nanti bekerja untuk negara. Sementara yang kita perlu lakukan adalah negara bekerja untuk rakyat. Ini kan fasilitas untuk penyelenggara negara, itu semua. Jadi saya melihat yang harus didukung kalau kita berbicara dukungan internasional, maka bagaimana kerjasama internasional itu untuk membangun infrastruktur bagi kebutuhan dasar rakyat Indonesia. Saya berilustrasi saja, Pak Dino. Kota ini, karena kita bangun satu kota. Indonesia diprediksi di tahun 2045 3 per 4 penduduknya tinggal di perkotaan. Dan ketika bicara tinggal di perkotaan, maka konsentrasinya di kota, otomatis polusinya akan terjadi, congestion akan terjadi, banyak sekali problem urban di situ. Salah satu solusi yang paling penting adalah membangun transportasi umum di kota-kota di Indonesia. Bayangkan kalau sumber daya itu yang besar internasional itu dipakai untuk membangun transportasi umum di seluruh Indonesia, maka kota-kota besar Indonesia kota-kota akan punya transportasi umum, yang itu akan menekan biaya hidup bagi penduduknya, mengurangi emisi karbon di tempat itu, dan mengurangi potensi kemacetan, yang itu dampaknya dirasakan di seluruh Indonesia. Jadi saya lebih melihat didorong ke sana daripada untuk sebuah kota yang manfaatnya dirasakan oleh penyelenggaran negara, bukan dirasakan oleh

00:51:4100:51:59

rakyat Indonesia.

00:51:5900:52:11

Berusaha sukses di Amerika Serikat, Pak Edward Manandi, juga ada Robert dan Vivi Manan, restorannya di luar negeri laku luar biasa. Bisa berdiri Pak Robert

00:52:1100:52:13

dan Vivi Manan.

00:52:1300:53:01

Tapi yang saya catat gini Pak Anies, diaspora yang aspek PMI-nya terurus, karena ada dua juta pekerja migran Indonesia, ada badannya yang mengurus, tapi yang empat juta lain, yang pengusaha, dokter, inovator, profesor, segala macam itu praktis gak ada yang ngurus, yang dua pertiganya. Dan dari diaspora kita sudah bertahun-tahun mengusulkan pembentukan badan nasional diaspora Indonesia, sehingga aspek pendidikan, teknologi, inovasi, modal, jaringan, semuanya juga ikut tertangani. Dan selama ini tidak tertangani. Apakah Pak Anies ada tanggapan mengenai usulannya? Setuju sekali. Menurut saya itu sekarang sudah menjadi

00:53:0100:53:03

kebutuhan. Dan

00:53:0300:55:19

saya menemukan begitu banyak orang-orang Indonesia atau generasi kedua, ketiga Indonesia yang berada di negara-negara lain, yang mereka masih mencintai negeri ini, ingin berbuat untuk negeri ini, tapi mereka kesulitan mendapatkan saluran yang tepat untuk bisa membantu Indonesia. Dan bila ada badan itu, dan badan ini bisa berbentuk partnership, private-public partnership. Jadi tidak harus semata-mata negara. Kenapa? Kadang-kadang begitu itu negara saja, itu kehilangan fleksibilitasnya, kehilangan kreatifitasnya. Dan ini bisa sebuah partnership. Tapi partnership ini menjadi clearing house. Clearing house untuk sumber daya yang ingin membantu untuk Indonesia. Yang kedua, yang tidak kalah penting adalah bagaimana mereka itu tetap bisa punya ikatan dengan Indonesia. Kemudahan dalam urusan visa, sebagian dari mereka sudah memiliki kewarganegaraan yang berbeda. Tapi ketika mereka mau pulang ke kampung halaman orang tuanya, mereka mengalami kesulitan untuk dapat visa karena diperlakukan sama dengan yang lain. Dan menurut saya kalau ada badan seperti ini, yang bisa mengidentifikasi, yang bisa membantu, maka mereka akan terus punya akar di Indonesia. Dan itu kepentingan kita. Seperti saya sampaikan tadi, justru jangan membayangkan diplomasi ke depan hanya dikerjakan oleh para diplomat resmi. Tapi harus total football. Dan kalau total football artinya diaspora yang sudah berada di sana, sudah sukses di sana, itu bisa menjadi garda terdepan kita. Nah bagian kita nyiapin infrastrukturnya. Jadi kira-kira begini, yang hari ini terjadi, diaspora dengan Indonesia itu partisipasi. Mereka bekerja, mereka membantu Indonesia, tapi sifatnya partisipatif. Kami membayangkan level lebih tinggi, kolaboratif. Apa bedanya? Kalau partisipasi, Anda mengerjakan, kami mengerjakan, tapi kami tidak berinteraksi. Kalau kolaboratif, Anda mengerjakan, kami mengerjakan, dan kita bekerja bersama. Nah kami ingin yang level kedua, kolaborasi. Itu arah kita ke depan.

00:55:1900:55:21

Terima kasih.

00:55:2100:55:23

Ini pertanyaan terakhir, Pak Anies.

00:55:2300:55:25

Tadi Pak Anies

00:55:2500:59:13

bicara ada tren demokrasi backsliding in many places. Dan saya juga membaca ada tren banyak pemimpin yang naik, yang menganut nasionalisme sempit. Dan juga fobi terhadap hal tertentu. Di Belanda kita lihat kemarin Gilles Wilder akhirnya dia menang 34 persen. Di Prancis juga Marie Le Pen. Pemilu sebelumnya tinggi sekali angkanya. Dan di berbagai tempat itu pemimpin sayap kanan atau pemimpin yang mengandalkan hantu migran atau fobia atau islamofobia, anti asing semakin banyak kelihatan. Ini sebetulnya alasan FPCI mendidikan internasionalisme. Karena kita ingin mendidik publik dan anak muda bahwa kalau Indonesia mau maju kita gak boleh takut dunia. Kita harus cerdik terhadap dunia. Saya ingin menanyakan Pak Anies, what does internationalism mean to you? Begini, I was fortunate, Pak Adino. I was truly fortunate bahwa saya mendapatkan exposure tentang dunia internasional di usia yang cukup belia. Saya waktu itu siswa SMA kelas 2 di Jogja dan pada waktu itu saya ingin sekali bisa menjadi peserta pertukaran pelajar. Kebetulan di rumah kami itu korannya, koran yang dibaca itu koran Indonesia dan koran internasional. Karena kakek kami dapat dari kedutaan-kedutaan, itu koran-koran walaupun telat seminggu koran-koran, itu dari berbagai negara yang mereka kirimin. Jadi bacaan itu ada, lalu kami saya ingin jadi peserta pertukaran pelajar. Dan akhirnya saya menjadi peserta pertukaran pelajaran IFS di usia SMA kelas 2. Apa yang terjadi? Saya dari Jogja mendapatkan tinggal di sebuah keluarga di South Milwaukee Amerika Serikat. Dan dadak saat itu ada kesadaran baru, saya adalah warga Jogja saya adalah warga Indonesia dan saya adalah warga dunia. Saya adalah warga tiga dunia. Dunia kota, dunia Indonesia, dan dunia yang kita tahu sebagai dunia kita sekarang ini. Itu membuat kami merasa bahwa jangan sampai perspektif global itu, itu tidak muncul di anak-anak kita sekarang. Saya merasakan itu. Menurut saya dan di kepemimpinan nasional di kepemimpinan nasional itu harus ada perasaan bahwa saya adalah memang memimpin Indonesia, tapi juga saya adalah salah satu pemimpin di dalam dunia internasional. Jadi ketika bicara ke depan, maka kami tidak bicara besok mau apa, justru sekarang. Dan ketika kami waktu itu saya menginisiasi program namanya Indonesia mengajar. Indonesia mengajar itu tujuannya bukan mengirimkan guru ke pelosok semata, tujuannya adalah begini, menseleksi anak-anak dengan kompetensi global. Itu persaratannya. Ditempatkan di kampung yang paling sulit supaya dia punya grassroot understanding. Karena saya mengkhawatirkan mereka yang punya perspektif global tidak tahu grassroot. Yang paham grassroot punya global phobia. Yang paham grassroot takut sama dunia. Yang ngerti dunia tidak tahu grassroot. Karena itu saya bilang yang kita butuhkan adalah pemimpin Indonesia ke depan yang memiliki world class competence dengan grassroot understanding yang kuat.

00:59:1300:59:15

Jadi

00:59:1501:00:53

di satu sisi dia punya akar pemahaman yang kuat tentang Indonesia, tentang kondisi rakyat, tapi di sisi lain dia punya kompetensi yang global. Jadi, jangan memandang dunia itu sebagai sesuatu yang menakutkan. Tapi dunia itu dipandang sebagai arena untuk kita berkarya. Dan kita sudah menyaksikan Indonesia pernah memainkan peran itu di masa lalu, berhasil, punya tempat di dunia, dan saya rasa ke depan juga seperti itu. Karena itu saya setuju sekali dengan pandangan jangan sampai berpandangan sempit tentang global, tentang nasionalisme. Justru kita harus mengadopsi yang luas dan kalau boleh saya sampaikan, itu pengalaman yang kami beruntung sekali Allah berikan kesempatan untuk bisa mendapatkan itu semua, yang itu akan dibawa. Jadi ketika kemarin saya memimpin di Jakarta, maka Jakarta menjadi kota yang aktif di dalam persaturan dunia. Dan Pak Dino, ketika awal-awal saya aktif, itu menarik sekali. Apa komentar para wali kota dunia pada waktu itu? Pada waktu itu mereka mengatakan Mr. Governor, we have been longing to see Jakarta in our forum. Jakarta is the biggest megapolitan in the southern hemisphere. And Jakarta had always been absence in our international forum. So we brought back Jakarta into the orbit and Jakarta influence the conversation on the circle sehingga kita bukan penonton, tapi kita ikut menentukan. Nah itu yang kita harap kita kerjakan juga di masa yang akan datang.

01:00:5301:00:55

Terima kasih.

01:00:5501:01:55

Terima kasih. Sayangnya waktu sudah habis dan saya ingin mengundang, pertama mengucapkan terima kasih ke Pak Anies. Dan dari percakapan ini saya semakin yakin, kita semua tahu bahwa dalam kapasitas apapun, kapasitas apapun yang Pak Anies pegang, apakah sebagai pemerintah atau di luar pemerintah, Indonesia akan lebih baik dengan orang-orang seperti Pak Anies. Siapa yang setuju? Dan mari kita berikan tepuk tangan yang meriah untuk Pak Anies Baswedan atas inspirasinya yang diberikan pada hari ini. Dan saya kembalikan kepada MC. Baik, terima kasih Pak Dino Patijal dan terima kasih juga Bapak Anies Baswedan sekali lagi berikan tepuk tangan yang meriah untuk sesi spesial kita yang pertama di CIFP 2023. Baik, Bapak dan Ibu,

01:01:5501:01:57

teman-teman hadirin sekalian, ini

01:01:5701:02:38

baru sesi istimewa atau sesi spesial yang pertama di CIFP 2023 dan dengan rampungnya sesi spesial pertama ini berakhir juga sesi opening plenary dari Conference on Indonesian Foreign Policy 2023. Sekali lagi boleh berikan tepuk tangan yang meriah. Dan di akhir sesi ini Bapak dan Ibu hadirin rekan-rekan semua, kita ingin juga informasikan bahwa akan ada 15 sesi paralel yang bertempat di 5 ruangan yaitu di Puri Agung, Puri Ratna, Candi Singosari, Candi Prambanan, dan Puri Putri yang semuanya terletak

01:02:3801:06:17

di lantai ini. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.

01:06:1701:06:37

Lalu akan mulai masa kampanye mulai November 2023 sampai dengan Februari 2024. Lalu masuk masa tenang pada 11 sampai 13 Februari 2024. Kesokan harinya pada 14 Februari 2024, tibalah waktu untuk kita memberikan suara.

01:06:3701:06:41

Keren. Terima kasih.

01:06:4101:07:15

Ada lagi nggak yang lebih keren? Ada dong. Biar lebih keren, Kompas TV untuk mengikuti perkembangan Pemilu bersama teman memilih Kompas TV Rumah Pemilu.

01:07:1501:10:07

PEMILU RUMAH PEMILU Independensi adalah kunci terpercaya menginformasi Berita bohong palsu dan ilusi pasti tak ada di sini Kompas TV teman terpercaya independen sampaikan berita menggali informasi terkini Kompas TV temani hari-hari Kompas TV teman terpercaya independen sampaikan berita memberikan yang terbaik menjadi semangat kami Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV

01:10:0701:10:19

Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV

01:10:1901:10:31

Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV

01:10:3101:10:55

Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV

01:10:5501:10:57

Kompas TV

01:10:5701:11:11

Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV

01:11:1101:11:17

Kompas TV Kompas TV Kompas TV

01:11:1701:11:25

Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV

01:11:2501:12:11

Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV

01:12:1101:12:13

Kompas TV

01:12:1301:14:43

Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV

01:14:4301:14:53

Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV

01:14:5301:15:07

Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV

01:15:0701:15:47

Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV

01:15:4701:15:51

Kompas TV Kompas TV

01:15:5101:16:01

Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV

01:16:0101:31:59

Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Kompas TV Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^ Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE... ^^

Transkrip Suara ke Teks Murah dan Cepat dengan Teknologi AI

  • Rp10.000/file, durasi tak terbatas
  • 95% akurasi