πŸŽ‰ Dapatkan Transkrip Cepat dan Murah Hanya Rp10rb/rekaman πŸŽ‰

[Part 1] 13 Tahun Mata Najwa - Bergerak Bergerak Berdampak - Mata Najwa.mp3

Transkrip.id41 Menit

Transkrip berikut dihasilkan secara otomatis dari aplikasi Transkrip.id. Ubah audio/video menjadi teks secara otomatis hanya Rp10rb dengan durasi tak terbatas. Coba Sekarang!

00:00:0000:00:08

Yes. Saimin, Assalamualaikum.

00:00:0800:00:28

Mas Gibran, terima kasih sudah hadir. Pak Mahfud MD, terima kasih banyak. Pak Mahfud sudah hadir. Boleh dong aku masuk ke depan. Ini jarang-jarang nih cowok pres survei dan cowok pres asli nih.

00:00:2800:00:35

Boleh gak di tengah sini? Aduh, keren banget. Nah, itu dia.

00:00:3500:00:53

Kasih tepuk tangan dong untuk semuanya. Para tokoh yang berbesar hati, para tokoh yang bilang tadi politik bukan matematika, para tokoh yang takdirnya sudah ditentukan oleh yang di atas, tapi tetap bersaudara semuanya. Terima kasih. Boleh saya meminta cowok pres survei untuk turun ke bawah?

00:00:5300:00:59

Mohon maaf. Kami sudah biasa turun.

00:00:5900:01:32

Boleh turun, boleh ke samping. Mas Erick, kasih tepuk tangan dong untuk Sandiaga Uno, Erick Tohir, Ridwan Kamil. Boleh silakan bapak-bapak mas-mas. Silakan, Pak Mahfud boleh di sebelah sini. Silakan Mas Gibran di tengah. Ini supaya sesuai nomor urut. Betul kan? Satu, dua, tiga. Duduknya di sini agak ke pinggir, nanti kalau pasangannya sudah datang, aku minta duduk ke sana. Tapi yang sekarang duduk dekat aku dulu. Apa kabar Pak Mahfud, sehat-sehat?

00:01:3200:01:34

Baik, Alhamdulillah sehat.

00:01:3400:01:36

Mas Gibran sehat-sehat mas?

00:01:3600:01:37

Sehat-sehat.

00:01:3700:01:39

Alhamdulillah. Cak Imin, Gus Imin?

00:01:3900:01:40

Alhamdulillah sehat.

00:01:4000:01:45

Sehat. Ini saya tahu lagi melalang buana kemana-mana. Kayak Mas Gibran baru dari sumut kan?

00:01:4500:01:47

Iya, baru pulang.

00:01:4700:01:49

Baru pulang. Pak Mahfud dari Madura?

00:01:4900:01:51

Dari Madura.

00:01:5100:01:52

Gus Imin dari mana Gus?

00:01:5200:01:56

Dari Jombang. Sudah keliling kemana-mana.

00:01:5600:02:02

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk hadir di perayaan Mata Najwa. Sekali lagi tepuk tangan dong, senang sekali rasanya.

00:02:0200:02:04

Senang sekali.

00:02:0400:02:31

Jadi Mata Najwa 13 tahun. Tadi saya bertanya kepada teman-teman sebelum ini, 13 tahun yang lalu melakukan apa sih kalau kilas balik? Jadi saya mau tanya juga. Gus Imin 13 tahun yang lalu itu kalau catatan saya Gus, Gus Imin itu baru saja jadi ketum PKB, ya kan? 2008. Lalu dilantik jadi Menteri Tenaga Kerja Transmigrasi 2009. Jadi kurang lebih 13 tahun yang lalu pun sudah menduduki posisi-posisi penting ya Gus?

00:02:3100:02:46

Iya, saya 13 tahun yang lalu pas kebetulan Menteri Tenaga Kerjaan dan Transmigrasi. Sebelumnya Wakil Ketua DPR RI.

00:02:4600:02:51

Oh ini waktu mahasiswa ini. Yang mana sih Gus? Kira apa kanan? Kok burung banget.

00:02:5100:02:53

Mohon maaf.

00:02:5300:02:57

Jangan-jangan bukan ini Gus Imin. Salah foto jangan-jangan. Benar?

00:02:5700:02:59

Iya ini tapi waktu mahasiswa ini.

00:02:5900:03:05

Tapi ini waktu mahasiswa. Tapi waktu itu 13 tahun yang lalu sudah Menteri?

00:03:0500:04:09

Menteri. Jadi waktu itu saya menjadi bagian dari koalisi Pak SBY. Dan ditawarin untuk memilih salah satu jabatan Menteri. Kemudian saya meminta menjadi Menteri Ketenaga Kerjaan. Karena waktu itu banyak sekali kasus-kasus tenaga kerja Indonesia yang di luar negeri. Terutama di Saudi, Timur Tengah, dan Malaysia. Yang begitu banyak masalah. Dan begitu saya dilantik, yang saya lakukan pertama adalah menutup semua pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. Dan tidak ada satu pun saya izinkan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Dan yang paling saya bersyukur 13 tahun yang lalu itu adalah apa? Saudi Arabia yang gak pernah sama sekali mau MOU menganggap ada kerjasama penempatan. Karena saya tutup dan nangis-nangis dia butuh tenaga kerja. Akhirnya untuk pertama kali dalam sejarah Saudi Arabia akhirnya mau menandatangani MOU kerjasama negara dari negara. Ji tu ji.

00:04:0900:04:23

Itu yang diingat. Saya mau ke Mas Gibran. Mas, aku ada foto. 13 tahun yang lalu tuh Mas Gibran ada foto ini mas. Wih sudah kan mas, lulus atau apa?

00:04:2300:04:24

Baru lulus.

00:04:2400:04:25

Ini baru lulus?

00:04:2500:04:58

Iya baru lulus. Ini di Sydney apa di Singapura mas? Ini di Singapura. Oh iya, tahan dulu mbak. Ini fotonya lagi dipermasalahkan dua tokoh ini. Masalah fotonya katanya editan sama ijazahnya palsu. Gak apa-apa besok teman-teman media seperti biasa jam 7 pagi di balik kota. Ntar saya bawain ijazah saya ya. Dicek aja asli atau palsu ya. Kalo gak percaya saya pesenin tiket ke Singapura deh. Datengin ke sekolahnya.

00:04:5800:05:00

Kalo perlu langsung ke Singapura gitu ya mas Gibran?

00:05:0000:05:04

Permasalahkan soalnya ya.

00:05:0400:05:15

Mas apa sih yang diingat waktu lagi ini? Boleh muncul lagi gak? Aku lagi mau nunjukin mukanya mas Gibran. Apa yang diingat momen 13 tahun yang lalu ini mas?

00:05:1500:05:39

13 tahun yang lalu ya. Gak nyangka sih mbak sampai di titik ini ya. Awal-awal dulu diundang ke matanah, sesuai kan saya juga belum jadi apa-apa. Sekarang bisa duduk bareng dengan orang-orang hebat. Prof Mahfud, Gus Muhaimin, luar biasa sekali. Baik, kalau itu Prof Mahfud.

00:05:3900:05:46

13 tahun yang lalu, Prof Mahfud. Sudah, kalau catatan saya, 13 tahun yang lalu sudah jadi Hakim Konstitusi?

00:05:4600:05:48

Iya, Ketua Mahkamah Konstitusi.

00:05:4800:06:01

Ketua Mahkamah Konstitusi. Ketua Mahkamah Konstitusi. Apa yang memori paling kuat atas pengalaman jadi Hakim Konstitusi?

00:06:0100:07:00

Ada dua. Satu, ketika saya membongkar kasus mafia peradilan yang dilakukan secara bersama-sama. Oleh Polri, Kejaksana Agung, pengacara LPSK dalam kasus Cicak Buaya yang pertama. Yang melibatkan Susnodo Haji. Di sini ada Mas Chandra Hamsah. Ada tadi saya lihat, oh itu ada tuh. Beliau dulu dikriminalisasi. Tidak melakukan kesalahan, ditahan. Untuk mengurangi, waktu itu analisenya, jumlah komisioner KPK yang jumlahnya lima. Itu ditahan, satu sudah ditahan, dua ditahan lagi sehingga tidak korum. Nah, waktu itu saya bongkar persilingkuan itu, persilingkuan antara penegak hukum itu. Ada rekaman, rekaman pembicaraan untuk memenjarakan Chandra Hamsah dan Bibit Samad.

00:07:0000:07:02

Saya ingat, saya meliput itu waktu itu.

00:07:0200:08:50

Tapi lebih dari itu, sesudah itu seluruh ajudan dan pengawal saya ditarik oleh polisi. Sehingga saya jalan sendirian. Saya bilang kalau begitu caranya saya menyewa bodi gad swasta pada waktu itu. Tapi pada akhirnya diselesaikan oleh Presiden SBY. Kira-kira empat atau lima hari saya tidak punya ajudan, tidak punya pengawal. Semua polisi ditarik, akhirnya polisi datang menawarkan, Bapak adalah pejabat ring satu, apapun yang Bapak minta kami berikan sekarang. Waktu itu saya ingat kapoldanya Wahyono yang mengantarkan, Bapak milih, sekarang Bapak dikawal oleh negara. Karena waktu itu saya bilang ke Pak SBY, saya mau menyewa pengawal swastakan banyak. Saya punya anggaran untuk itu, kalau negara tidak mau mengawal saya, saya bilang. Lalu banyak lagi sih, yang kedua soal pemilihan umum. Yang pada waktu itu mau kacau, karena hari Senin malam itu Pak Prabowo dan Pak Wiranto datang ke kantor PP Muhammadiyah yang menyatakan mereka akan menarik diri dari pemilu. Kalau DPT, daftar pemilih tetap itu tidak diubah. Nah yang mau mengubah tidak ada yang berani. Karena DPT itu sudah diumumkan secara resmi. Saya bilang ke Pak SBY kalau keluarkan Perpu untuk menyelesaikan ini, Pak SBY keberatan. Kalau nanti saya keluarkan Perpu lalu ternyata ditolak oleh DPR, saya ngancur. Maka pada waktu itu saya bikin sidang hanya satu hari. Jam 9 sidang, jam 4 sore diputus bahwa KTP dan paspor boleh digunakan, dibawa ke TPS untuk memilih. Sejahtera itu pemilu berjalan aman, lancar dan selesai.

00:08:5000:09:15

Itu tadi kilas balik 13 tahun lalu. Kita ingin kenal lebih dekat dengan calon wakil presiden yang akan berkontestasi di 2024. Jadi saya ada sejumlah pertanyaan reflektif yang mungkin jarang ditanyakan orang. Mungkin dijawabnya cepat-cepat saja. Hanya supaya ingin kenal kepribadian lebih dekat. Gus Imin, hal yang kerap kali terpikirkan saat sebelum tidur.

00:09:1500:09:19

Singkat aja Gus. Dulu-dulu atau akhir-akhir ini?

00:09:1900:09:23

Akhir-akhir ini. Sebelum tidur mikir apa? Ngaku Gus.

00:09:2300:10:09

Kalau akhir-akhir ini sebelum tidur itu selalu yang saya pikirkan pertanyaan-pertanyaan. Saya ini setiap acara rame tapi kok surveinya jelek terus. Ini yang salah surveinya atau acaranya yang rame saya gak tau. Ya sebelum tidur, akhir-akhir ini ya. Memang yang saya pikirkan itu. Tanda tanya mana yang terjadi sesungguhnya dengan apa yang sebetulnya sedang dalam permainan. Oke, jadi itu yang dipikirkan? Merenungi. Merenungi nasib rakyat Indonesia.

00:10:0900:10:14

Mas Gibran, akhir-akhir ini sebelum tidur mikirin apa?

00:10:1400:10:20

Sebelum tidur ya. Saya kalau udah ketemu kasur langsung tidur sih.

00:10:2000:10:29

Beruntung mas, beruntung kalau bisa langsung tidur. Ada orang yang kadang suka makan waktu lama. Jadi mas Gibran blak, masa gak ada yang dipikirin? Mbak Sylvie masa gak dipikirin?

00:10:2900:10:42

Pulang dari mata naswar langsung tidur juga. Gak usah terlalu banyak pikiran lah ya. Masalah survei, masalah apa, siapa yang paling tinggi. Kita jalani aja Gus. Santai aja Gus.

00:10:4200:10:44

Jadi gak mikir apa-apa sebelum tidur ya?

00:10:4400:10:47

Saya sih santai, biasa saja.

00:10:4700:10:59

Aku ingat setiap kali mau wawancara mas Gibran tuh pasti kalimat andalanya biasa aja. Jadi kalau pun sebelum tidur ya biasa aja ya mas, biasa aja. Pak Mahfud, sebelum tidur apa yang akhir-akhir ini kerap kali muncul di benak?

00:10:5900:11:58

Akhir-akhir ini saya sering berpikir begini ya. Kalau mau tidur tuh ngapain sih saya ini kok ikut bolak-balik, kampanye, ngomong gitu. Enggak, saya bilang apa ada gunanya, apa ada manfaatnya bagi saya gitu. Saya kadang udah lah saya sudah 23 tahun di pemerintahan, mau males berhenti aja. Tapi setiap bangun tidur, sudah banyak tamu yang mendorong saya maju, maju, maju, maju. Sehingga ya sudah akhirnya saya masuk di dalam kontestasi ini. Tapi kalau malam lagi tidur, apa lagi, apa bisa saya ngerjain ini, untuk apa ini semua. Besok semisalnya jadi pejabat lagi, apa bisa saya mengerjakan masalah-masalah yang begini besar saya hadapi. Kan banyak yang hebat-hebat menurut saya. Tapi lagi-lagi terutama tuh ada Budi Kuncoro tuh setiap hari, Pak, Pak maju aja, gak ada orang lain ini yang bisa katanya. Semangat lagi saya sampai akhirnya masuk di dalam daftar kontestasi.

00:11:5800:12:04

Ini dijawab cepat aja ya. Gus Imin, lebih baik dicintai atau mencintai?

00:12:0400:12:09

Iya pasti lebih baik dicintai dong.

00:12:0900:12:14

Dicintai. Mas Gibran, mencinta atau dicinta?

00:12:1400:12:40

Mencinta. Pak Mahfud? Saya gak bisa milih satu, karena orang dicintai tapi tidak mencintai itu membuat orang lain menderita. Tapi orang mencintai, orang mencintai tidak dicintai, diri sendiri akan menderita. Oleh sebab itu harus timbal balik. Harus timbal balik, oke.

00:12:4000:13:07

Saya mau hal yang ini, orang nomor dua, tiga-tiganya terbiasa jadi pemeran utama rasanya. Sementara orang nomor dua itu katanya ya harus sadar diri, harus tahu posisi. Jadi saya mau tanya Gus Imin, bagaimana menyiapkan diri menjadi orang nomor dua? Seberapa sulit kira-kira jadi orang nomor dua? Setelah terbiasa jadi orang nomor satu terus, ketua partai aja sudah 18 tahun.

00:13:0700:13:48

Iya, saya memang sudah terbiasa jadi orang nomor satu. Sudah terbiasa dari orang nomor satu tiba-tiba jadi orang nomor dua. Makanya sebelum saya matangkan bersama Mas Anies, saya bicara berdua. Mas Anies, kalau sampai nomor satu saya nomor dua, bagaimana caranya saya juga nomor satu? Kalau saya nomor satu sampai nomor dua, bagaimana caranya saya juga nomor satu? Akhirnya kami sepakat berdua, ya sudah itu enggak lah. Yang satu jadi dua, yang dua jadi satu. Bersama-sama, berangkat bersama-sama untuk kebaikan semuanya.

00:13:4800:13:57

Mas Gibran bagaimana? Ada tidak wapres idola yang dijadikan panutan? Dan bagaimana menggambarkan relasi bersiap jadi orang nomor dua?

00:13:5700:14:36

Wapres idola ya, ada Pak Ma'ruf Amin. Beliau kalau memberikan pidato atau ngendikan, itu suasana langsung adem ayem. Atau mungkin Pak Jika, Pak Jika itu benar-benar orang yang problem solver. Beliau luar biasa sekali, ngerti lapangan, ngerti teknis, detail teknis. Beliau berdua sangat luar biasa sekali. Termasuk dua cowok bersih ini juga idola saya. Prof Mahfud, Gus Muhaimin, beliau tokoh yang luar biasa sekali.

00:14:3600:14:39

Pak Mahfud, bagaimana relasi orang kedua?

00:14:3900:15:23

Sama saja nomor satu, nomor dua. Kan ada batas keunangan masing-masing. Bagi saya itu hanya bagi-bagi tugas saja. Dan saya merasa selalu menjadi orang nomor satu dilingkup saya. Seumpama di atas saya ada yang lebih tinggi, saya akan nomor satu dilingkup keunangan saya. Saya pernah menjadi Menteri Pertahanan juga nomor satu. Tapi saya nomor tiga di pemerintahan karena ada Presiden, Wakil Presiden, Menteri. Tapi tetap merasa nomor satu artinya kebawahnya bagi saya tetap harus diurus. Tetapi kalau dalam konteks urusan kerja ke negara antara Presiden dan Wakil Presiden, saya kira nomor satu dan nomor dua itu harus disinergikan menjadi semacam konsep duit tunggal. Agar semuanya lancar dan saling mengerti. Itu saja.

00:15:2300:15:33

Rasanya kita perlu mengonfirmasi ya jawaban-jawaban ini. Rasanya saya perlu mengonfirmasi jawaban soal orang kedua dengan orang pertamanya langsung.

00:15:3300:15:38

Karena itu saya ingin undang ke panggung spesial Mata Najwa.

00:15:3800:16:06

Calon Presiden Republik Indonesia sudah hadir di Mata Najwa. Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto. Kita kasih tepuk tangan sama-sama untuk tiga calon Wakil Presiden, calon Presiden Republik Indonesia yang akan bergabung bersama dengan para calon Wakil Presidennya. Sekali lagi dong tepuk tangan yang kencang sekali luar biasa.

00:16:0600:16:08

Mas Anies Baswedan.

00:16:0800:16:15

Mas Anies apa kabar? Selamat malam. Silakan Mas Anies. Bapak Prabowo Subianto.

00:16:1500:16:17

Selamat malam, Assalamualaikum Bapak. Terima kasih banyak sudah hadir.

00:16:1700:16:26

Mas Ganjar Pranowo. Terima kasih.

00:16:2600:16:29

Luar biasa. Luar biasa.

00:16:2900:17:22

Luar biasa panggung Mata Najwa. Lengkap loh calon Presiden, calon Wakil Presiden. Silakan pamit gue disini. Sekali lagi dong. Ini soalnya banyak yang pakai Instastory nih aku yakin. Jadi tepuk tangannya gak kencang. Kalau ditaruh seperti kalau waktu di Coldplay, suruh taruh dulu baru tepuk tangan yang kencang. Sekali lagi dong tepuk tangan untuk semua calon Presiden, calon Wakil Presiden. Terima kasih banyak Mas Ganjar, Pak Prabowo, Mas Anies. Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk hadir. Saya tahu kegiatannya luar biasa sibuk. Kehormatan buat saya Bapak-Bapak bersedia untuk memenuhi undangan ulang tahun Mata Najwa. Dan rasa-rasanya sebetulnya waktu untuk duduk seperti ini bersama pasangan kan jarang ya? Karena sama-sama sibuk. Kapan Mas Ganjar? Terakhir duduk bersama. Jangan-jangan gak pernah ketemu, ketemunya di Mata Najwa.

00:17:2200:17:40

Iya jarang. Saya lihat Pak Mahfud cuma di TV. Di Medsos baru tadi ketemu. Waduh Pak di Madura rame amat. Iya namanya juga pulang kampung gitu. Tapi ya di Mata Najwa bisa bertemu semuanya malah. Terima kasih, terima kasih.

00:17:4000:17:43

Mas Anies, kapan Mas terakhir kali duduk berdampingan Mas?

00:17:4300:18:04

Oh kalau kita sering. Mungkin dua hari sekali kita ketemu. Acara-acara juga kita sering banyak bareng. Dan komunikasi, wea-an, teleponan, jalan terus. Jadi kalau barengan lumayan sering. Dan sering acara-acara keliling juga masih sering sama-sama. Tapi kumpul bareng begini, nah ini baru Mata Najwa yang bisa bikin begini. Alhamdulillah.

00:18:0400:18:06

Bapak Prabowo sehat Bapak?

00:18:0600:18:07

Terima kasih, terima kasih.

00:18:0700:18:12

Bapak kapan terakhir kali duduk bersama Mas Gibran? Acara KPU atau sebelumnya sempat?

00:18:1200:18:22

Saya kira waktu itu ya, kita ambil pengudia nomor. Pengudia nomor? Iya tanggal kemarin itu ya, 14 ya. Tanggal 14.

00:18:2200:18:35

Pak apa hal-hal baru yang kemudian Bapak baru, wah ternyata Mas Gibran seperti ini orangnya. Baru tahu setelah sering bertemu atau sering ngobrol. Yang tidak disangka-sangka dari pasangan Bapak.

00:18:3500:18:58

Yes. Saya terkesan, tapi sebetulnya tidak perlu terlalu kaget. Karena beliau anak muda, jadi sangat dinamis. Fisiknya kuat, mau belusukan kemana-mana. Energinya luar biasa, jadi saya itu sangat terbantu.

00:18:5800:19:00

Jadi bagi tugasnya enak ya Pak?

00:19:0000:19:01

Bagaimana?

00:19:0100:19:02

Berbagi tugasnya enak?

00:19:0200:19:05

Berbagi tugasnya enak, enak sekali.

00:19:0500:19:12

Jadi Mas Gibran bagian apa Mas? Mas Gibran bagian apa biasanya dengan Pak Prabowo bagi tugasnya?

00:19:1200:19:48

Ya kami kalau ke suatu tempat atau belusukan ya, kita kan lagi sering belusukan nih, jarang berdua. Jadi kita bagi tugas di beberapa wilayah biar lebih efektif. Kalau saya yang lebih ke daerah-daerah, door-to-door, turun ke pasar dan lain-lain. Dan kita juga lebih banyak ketemu anak-anak muda. Jadi itu yang kita sasar selama ini. Pembagiannya? Lebih ke anak muda ya? Ya anak-anak muda. Kalau saya yang setengah muda.

00:19:4800:19:57

Setengah, setengah muda yang ini lebih muda. Mas Ganjar apa yang tidak disangka-sangka dari pasangan Anda? Yang baru ketahuan sekarang setelah intens berhubungan?

00:19:5700:20:26

Ternyata Pak Mahfud lincah. Iya Mbak, beliau masih jadi menko, saya bagi tugas keliling kemana. Mas Ganjar saya besok berangkat ke sana, weh ngegas malah. Itu kelincahan beliau, enerjik. Saya melihat beliau agak ngantuk kalau pas gak ditanyain apa-apa, dia duduk begitu. Tapi kalau pas kita mau bagi kerja, enerjik.

00:20:2600:20:33

Mas Anies, semuanya sudah tahu atau ada yang bikin kaget? Ada yang bikin kaget nggak dari sosok di samping Anda?

00:20:3300:20:46

Ghusie Min, gini saya kenal sama Ghusie Min sudah zaman kuliah dulu. Jadi dari dulu Ghusie Min ini cerdas, cenaka, spontan, dan iya.

00:20:4600:20:51

Ya betul, emang kenyataannya begitu. Dan sampai sekarang masih sama.

00:20:5100:21:17

Tadi juga waktu ditanya soal apa yang dipikirin malam, kan spontanitas gitu ya. Kalau Ghusie Min saya apa yang baru? Saya sama Mas Anies dari dulu, dari mahasiswa bareng kan. Jadi ya serius orangnya, kemudian kalau bicara ilmiah, yang baru dari dia ini akhir-akhir ini baru tahu. Penggemarnya banyak ibu-ibu.

00:21:1700:21:44

Itu yang bisa bahaya sebetulnya. Bapak-bapak, malam ini 13 tahun Mata Najwa. Kita ingin mendorong agar anak-anak muda, agar semua sesungguhnya, mau bergerak-bergerak sehingga membawa dampak. Dan saya ingin tanyakan, kalau kita kilas balik 13 tahun yang lalu. Catatan saya misalnya, Mas Anies 13 tahun yang lalu rektor, kemudian inisiator Indonesia Mengajar. Pak Prabowo 13 tahun yang lalu sudah mendirikan partai politik.

00:21:4400:21:51

Dan bapak juga sempat maju di Pilpres waktu itu. Dan Mas Ganjar berkiprah di DPR.

00:21:5100:22:00

Saat ini zaman berubah, situasi berubah. Apa yang relevan dilakukan hari-hari ini? Untuk anak-anak muda, untuk semua kalangan.

00:22:0000:22:03

Agar mereka juga bisa berdampak-berdampak dan bergerak.

00:22:0300:22:04

Mas Ganjar dulu Mas.

00:22:0400:23:00

Mengajak mereka terlibat. Bahasa saya melamar anak muda untuk bisa terlibat. Karena mereka unik. Hidup di era yang serba berputar cepat. Penuh dengan instrumen yang menarik seperti dunia digital. Dan menentukan masa depannya. Setidaknya banyak sekali masukan dari kawan-kawan muda soal kreativitas. Soal akses. Mereka yang anak muda dan perempuan. Apalagi yang di desa. Kami anak muda loh. Millenial, Gen Z dan sebagainya. Tapi akses kami tidak sama dengan yang ada di kota. Sehingga kalau kita saja bisa terlibat dan berpartisipasi. Rasa-rasanya semangat itu bisa ditularkan kepada teman-temannya. Karena anak muda akan menentukan nasib bangsa.

00:23:0000:23:32

Pak Prabowo, yang jelas kan memang pemilih muda itu akan mendominasi. Di Pilpres 2024 lebih dari 50%. Bagaimana meyakinkan bahwa mereka adalah suara penentu? Karena kalau sekarang misalnya ada yang bilang golput saja. Dan golput kan itu sesuatu yang apakah memang memilih untuk tidak memilih. Itu sah saja dilakukan kan? Apa yang kemudian bisa meyakinkan orang secara umum. Suaranya masih berharga untuk digunakan di pemilu nanti Pak Prabowo?

00:23:3200:24:54

Ya jadi kecenderungan golput itu sebetulnya adalah menurut saya suatu sikap menyerah. Suatu sikap tidak peduli. Dan ini terjadi di banyak negara. Bahkan kalau tidak salah di Amerika Serikat 50% tidak mau memilih. Sampai 50%. Nah kalau saya, saya selalu ingin yakinkan setiap warga negara bahwa nasib Anda ditentukan di beberapa menit di TPS. Sekali dalam 5 tahun seluruh rakyat Indonesia itu sama. Ya kekuasaannya sama. Tidak ada jenderal, tidak ada petani, tidak ada orang kaya, tidak ada orang miskin. Satu orang satu suara. Sekali 5 tahun. Jadi kalau tidak dimanfaatkan ya itu sangat-sangat sayang. Dan saya selalu katakan bahwa kalau kita ingin merubah, kalau kita ingin memperbaiki nasib. Gunakanlah hak pilih.

00:24:5400:24:59

Mas Anies bagaimana mas? Mau yakinkan? Sama saja milih atau tidak milih?

00:24:5900:26:25

Meneruskan apa yang disampaikan tadi. Ketika kita memutuskan untuk melakukan pemilu, maka yang dihitung adalah suara yang memilih. Mereka yang tidak datang tidak diperhitungkan suaranya. Jadi kalau sebuah pemilu yang datang hanya 40%, yang 60% tidak memilih, tidak kemudian pemilunya batal. Keputusannya ditentukan oleh 40%. Sekarang pilihannya, kita mau menjadi yang menentukan atau kita mau menjadi yang hanya menonton keputusan. Menurut saya pilih yang menentukan. Kalau goal put itu dihitung, baru goal put itu menjadi perhatian. Misalnya 60% tidak ikut, yang datang hanya 40%, kemudian pemilunya batal. Nah goal put baru menjadi pilihan itu. Tapi kalau itu tidak jadi pilihan, mengapa kita jadi penonton? Apalagi anak muda, ada soal pengangguran, ada soal biaya sekolah yang mahal, biaya pendidikan yang tinggi. Kenapa kita mendiamkan, lihat siapa yang membawa ide-ide itu, lihat siapa yang punya kaitan dengan anak muda, lalu ambil pilihannya. Jangan jadi penonton dan jangan jadi goal put. Karena tidak dihitung suaranya. Kita lihat pilkada-pilkada pemilu yang partisipasinya hanya 40%, siapapun yang tertinggi diantar 40%, itulah yang menentukan masa depan kita. Jadi untuk itu saya katakan daripada menonton, ambil sikap datang memilih dan menentukan masa depan. Terima kasih.

00:26:2500:26:36

Ada satu kejutan lagi. Jadi ternyata saya juga baru tahu ketiga pasang Capres-Cawapres kita itu punya bakat yang luar biasa.

00:26:3600:26:38

Dan ada buktinya.

00:26:3800:27:08

Seorang musik komposer menemukan video tiga pasang Capres dan Cawapres ini menjadi semacam boy band, teman-teman. Ada videonya, kita saksikan dulu yang ini.

00:27:0800:28:46

Orang-orang terbaik. Kita menuju Indonesia emas. Indonesia best. Asyik belajar. Lancar best. Tunggu. Indonesia best. Asyik, asyik, asyik, asyik. Lancar best. Asyik, asyik, tunggu. Kita gak boleh apatis. Betul, betul. Mari kita bersuara. Kita ingin pemilihan yang sejuk. Rukun, damai, dan gembira. Oke, oke, oke. Satu musuh sangat berat. Dibanding seribu kawan. Gagasan boleh berbeda. Tapi kita sesungguhnya satu bangsa, satu tujuan. Kita kan mengantar Indonesia. Ke pintu gerbang kemajuan. Politik itu asyik. Asyik, asyik, asyik. Kita bisa tertawa. Bersama jaga persatuan. Kita ingin perubahan. Kita bergerak jadi bangsa yang hebat. Kita pilih orang-orang terbaik. Kita menuju Indonesia emas. Indonesia emas. Tunggu. Tancam gas. Tunggu. Tancam gas. Asyik, asyik, asyik. Tancam gas. Tunggu.

00:28:4600:29:19

Tancam gas. Tancam gas. Dan yang paling ikonik itu tunggu-tunggunya Pak Prabowo. Paling ikonik. Itu tadi video speech composing dari Eka Gustiwana. Terima kasih Mas Eka. Saya mau minta tanggapan itu tadi. Politik riang gembira. Itu mungkin tidak ya Mas Ganjar dalam realitanya. Politik itu asyik masa sih?

00:29:1900:30:09

Kalau kemudian yang memberikan contoh asyik. Bahwanya asyik juga. Kalau contoh yang di elitnya tidak asyik. Bahwanya bisa tidak asyik. Dan kontrol itu juga mesti dilakukan. Terus-menerus saling mengingatkan. Jadi kalau diantara kita saling mengingatkan. Atau barangkali ada kritik diantara kita. Yang tidak usah baper. Sudah baper. Ditambah ekspresinya tidak menyenangkan. Turunannya bisa dipersepsikan lain. Sehingga kalau kita memberikan pendidikan politik kepada mereka. Untuk mau terlibat katakan. Yuk kita ikut yuk. Kita dorong program yang kamu inginkan. Caranya mencapai seperti ini. Maka rasa-rasanya akan mengasihkan. Apalagi kalau membawa nilai seni, budaya. Kayak tadi itu loh. Itu jadi menyenangkan.

00:30:0900:30:13

Gus Imin, apa asiknya politik? Anda jadi politisi sudah sejak muda dulu.

00:30:1300:31:44

Apa asiknya politik? Ya, politik itu. Kayak kita bernafas dengan oksigen ini. Jadi pasti kebutuhan hidup. Tidak mungkin kita hidup tanpa oksigen. Tidak mungkin kita hidup tanpa politik. Sehingga kalau di politik itu. Menjadi bagian dari nafas kita sehari-hari. Nah kalau kemudian ada yang kompetisi. Ada yang merasa panas. Ada yang merasa dicurangi. Ada yang merasa sportif. Itu sama. Itu bagian dari pertunjukan-pertunjukan yang asik. Yang harusnya rakyat menonton itu seperti pertandingan si Pak Bola saja. Lihat saja dengan penuh keindahan. Mana yang seninya oke atau tidak. Dan yang paling penting adalah, yang paling asik adalah. Pak Mahfud ikut perubahan. Itu kan asik tadi kira-kira. Saya kemarin gak sadar ngomong kemajuan. Itu kan sama-sama asik. Dan sebetulnya juga ini. Kalau kita lihat menyenangkan. Kita semua yang menyiapkan banner. Pada menyiapkan kaos, bikin sablon, motornya disiapin. Itu kan karena suasana yang gembira di situ. Itu keriangan yang ada di jutaan orang. Yang mereka menyongsong masa kampanye. Dengan bersiap-siap segala macam. Jadi sesungguhnya ada keriangan yang luar biasa. Tapi kadang-kadang kita fokus kepada ketegangan. Padahal di luar sana ada jutaan yang merayakan suasana politik ini dengan keriangan. Itu yang harusnya kita tonjolkan juga ke depan.

00:31:4400:31:59

Itu yang harus kita sorotin. Pada saat merayakan keriaan itu. Mas Gibran, apa sih yang kerap kali menurut Mas Gibran orang suka salah paham terhadap politik? Atau mungkin saja pemahamannya benar tapi tidak diakui oleh elit?

00:31:5900:34:01

Biasanya ini apa? Kalau di atas elit saling bergandengan. Tapi kalau di bawah gaduh. Apalagi kalau di sosmed. Ini harus kita rubah Mbak. Jadi seperti apa yang disampaikan Pak Anies tadi. Jadi politik itu dibikin asik, dibikin riang gembira. Anak-anak muda jangan dipertontonkan yang buruk-buruk. Nanti jadi tambah apatis, jadi pengen golput. Eh jangan sampai. Makanya tadi Pak Ganjar bilang ayo anak muda kita libatkan. Saya juga anak muda, saya juga pengen melibatkan anak muda lebih banyak lagi untuk berpartisipasi. Karena sekarang Pak Prabowo sudah memberi kesempatan saya untuk menjadi cawapres. Jadi kita pengen politik itu dibikin santai, dibikin riang gembira. Kalau di sosmed, ya kalau bisa jangan ada bulian-bulian lah. Meskipun kadang-kadang bulian-bulian itu juga seru. Karena saya memanfaatkan itu juga. Tapi yang jelas kita pengen anak-anak muda jangan sampai apatis, jangan sampai kapok, jangan sampai tidak mau ke TPS, jangan sampai anti-party. Kita pengen ya politik itu dibawa gembira. Karena sekali lagi waktu di Matanaswa yang paling pertama, saya kan sangat-sangat antipolitik Mbak. Tapi ternyata setelah saya terjun, saya bisa punya banyak teman, banyak koneksi. Networking saya jadi luas. Yang dulu saya hanya bisa menyentuh 10-100 orang, sekarang bisa menyentuh ribuan orang. Karena saya baru merasakan belusukan di luar Jawa dan ternyata itu menyenangkan sekali. Meskipun banyak keluhan, meskipun banyak komplain, meskipun banyak cipiran-cipiran, tapi itu saya tampung semua. Karena itu menjadi kekuatan tersendiri untuk saya dan Pak Prabowo.

00:34:0100:34:42

Saya mau ke Pak Mahfud, yang jelas kalau kita lihat dialektikanya hari-hari ini, pemilu itu lebih banyak nge-popnya. Cak Imin misalnya bilang kayak pertandingan bola, sempat juga Mas Ganjar bilang kayak drakor. Nah bagaimana rakyat sebagai pemilih itu tidak kena timpuk, seperti halnya di pertandingan sepak bola. Atau tidak kena gas air mata Gus Imin. Atau bagaimana memastikan kalau analoginya adalah drakor, kita tidak terkecoh atau tidak terbawa suasana. Jadi bagaimana harus rakyat bersikap ketika melihat elit-elit,

00:34:4200:36:00

ada yang main bola atau ada yang melakukan apapun. Ya kalau bagi elit sih, bagi pejabat, aparat itu tinggal proporsional saja. Profesional dan profesional itu keharusan. Tapi kalau bagi rakyat, kalangan bawah, supaya disadari bahwa politik itu adalah keniscayaan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa lepas dari politik. Kalau Anda membutakan diri terhadap politik, Anda akan termakan oleh politik. Menjadi korbannya politik. Oleh sebab itu tinggal memposisikan apakah Anda ingin menjadi pemain yang baik atau menjadi pengikut politik yang baik. Dengan memberikan suara, memberikan kritik, bergantung posisinya. Seperti Najwa orang bilang seorang jurnalis, tapi sebenarnya dia politikus juga dalam arti selalu membuat pernyataan-pernyataan untuk mengarahkan perjalanan politik. Protes itu kan juga politik yang dilakukan oleh wartawan, oleh buruh dan sebagainya. Itu politik semuanya. Karena politik itu kan artinya organisasi negara. Dan kita tidak bisa lepas dari organisasi negara. Oleh sebab itu jangan apatis, ikut di posisi apapun. Dari posisi yang berbeda juga boleh.

00:36:0000:36:42

Pak Prabowo, kita kasih tepuk tangan dulu dong untuk Pak Mahfud. Bapak, idealnya seperti itu. Politik asik, politik yang membawa kegembiraan, tapi kenyataannya kan kontestasi pasti ada persaingan Pak. Di kontestasi justru kita mau ada perbedaan supaya orang bisa melihat mana yang lebih cocok, mana gagasan yang lebih ideal ditawarkan menurut persepsi masing-masing. Bagaimana mencari keseimbangan itu? Kita tidak mau semuanya sama, harus ada bedanya dong. Tapi bagaimana di tengah perbedaan itu juga tidak kemudian membuat kita saling sensi satu sama lain. Mencari keseimbangan itu Pak. Berbeda tapi tetap tidak saling melukai.

00:36:4200:39:15

Ya, jadi saya kira bahwa sebagai pimpinan politik kita harus semakin hati-hati. Karena kalau di atas itu kelihatan istilahnya tidak sejuk, di bawah itu bisa lebih tidak sejuk. Jadi benar bahwa dalam demokrasi kita, kita harus adu gagasan, harus adu program. Apa gagasan itu? Apa program itu? Yaitu program yang bisa mengatasi kesulitan rakyat sekarang. Ini yang ditunggu oleh rakyat. Ini yang ditunggu oleh anak-anak muda. Karena anak-anak muda ini sangat berkepentingan dengan masa depan. Karena masa depan itu milik mereka. Jadi mereka berkepentingan dengan pekerjaan. Mereka berkepentingan dengan nanti penghasilan mereka. Mereka berkepentingan dengan mutu pendidikan. Jadi kita dalam kontestasi ini, kita harus adu, adu gagasan, adu program. Ini yang demokrasi yang sebenarnya. Bukan demokrasi cacimaki. Bukan demokrasi curiga. Bukan demokrasi pecah belah. Nah ini kita harus belajar dari banyak negara lain. Jadi kita bersyukur kita bisa duduk di satu panggung begini. Inilah saya berterima kasih sama Mbak Nachwa. Mbak Nachwa yang punya kelebihan bisa ngatur kita. Jadi jangan salah ya. Jadi ini wartawan itu punya power yang luar biasa. Jadi kalau kita salah-salah, mereka yang ngatur-ngatur kita itu. Terima kasih kita bisa duduk di satu panggung.

00:39:1500:39:19

Sebetulnya tadinya saya hampir gak dateng loh.

00:39:1900:40:26

Tapi ya akhirnya terima kasih suasana ini yang kita inginkan. Karena kita disini nih semua sahabat. Kalau Pak Mahfud ini bos aku. Saya dulu ketua tim suksesnya Pak. Ketua tim sukses Bapak dulu. Sekarang gak dibahas. Dulu ketua tim sukses Bapak saya tahun 2014 ya Pak. Ketua tim pemenangan dulu. Iya Bapak. Iya saya. Jadi sahabat lama. Tidak ada masalah kita masih sahabat lama. Nah-nah kalau pemilu diibaratkan sepak bola itu. Sebetulnya semua pemain itu gak ada masalah. Yang masalah itu dua. Satu wasit atau komentator. Nah Mbak Nana ini kalau ibarat sepak bola itu komentator. Saya ingat cerita Gus Dur di Mesir. Di Mesir itu komentator bola dibawah Gibran. Dioper kepada Prabowo, dioper lagi kepada Mahfud MD. Itu komentatornya memihak sejak awal.

00:40:2600:40:31

Jadi begitu komentator dibawa oleh Mahfud. Dikirim oleh Mahfud. Aduh sayang kok masuk padahal harusnya gak boleh masuk.

00:40:3100:40:48

Itu sudah-sudah. Itu komentator. Makanya komentator juga harus sama dengan wasit. Pemilu ini menentukan masa depan. Sekali ada kecurangan permainan rusak. Penonton turun ke lapangan rusak semua pertandingan itu.

00:40:4800:40:51

Jadi jangan sampai pernah terjadi.

00:40:5100:41:02

Pemain-pemain bola ini mengundang penonton turun ke lapangan. Dan kemudian kita memulai pembangunan yang berhasil. Dari titik nol lagi untuk Indonesia masa depan yang berbahaya.

00:41:0200:41:05

Oke, jadi kuncinya di situ.

Transkrip Suara ke Teks Murah dan Cepat dengan Teknologi AI

  • Rp10.000/file, durasi tak terbatas
  • 95% akurasi